Sebagai subjek akadamis, guru PAI dituntut mampu menunjukkan dirinya. Artinya, guru PAI harus memiliki kerangka berpikir akademis sebagai syarat mutlak dalam mewujudkan profesionalisme. Rasional, ilmiah, progresif, non-konservatif, bervisi global dan memahami filosofi ilmu pengetahuan, merupakan beberapa sikap yang dimiliki subjek akademis.
Era deep learning mengharuskan guru PAI melakukan observasi cermat dengan fakta-fakta sahih. Hal ini bermuara kepada tercerminnya nilai-nilai keberagamaan Islam dalam kehidupan siswa. Sebagai contoh, untuk mengevaluasi kemampuan siswa dalam membaca al-Qur'an, misalnya, guru tidak boleh hanya berpatok kepada praktek membaca di kelas ketika KBM berlangsung. Namun guru PAI harus mampu memantau dengan cermat terhadap rutinitas murid untuk membaca al-Qur'an di luar jam sekolah.
Pada aspek hukum Islam (fiqih), evaluasi yang digunakan tidak hanya mengukur penguasaan konsep. Namun juga melihat kemampuan siswa untuk mengamalkan konsep yang telah dipahaminya itu. Shalat, sebagai studi kasus, evaluasi akhir tidak ditentukan ketika murid melaksanakan ujian praktek. Tetapi sejauh mana murid "merasa butuh" untuk shalat, sebagaimana mereka ketika butuh makan. Sehingga tidak karena diperintah orang tuanya ketika di rumah ataupun diawasi gurunya saat di sekolah.
Untuk aspek budi pekerti (akhlaq), diperlukan perangkat evaluasi yang mampu melihat murid secara menyeluruh. Diharapkan orientasi aspek akhlaq tidak hanya kepada penguasaan konsep, tetapi lebih kepada perubahan sikap yang tepat untuk mensikapi tema-tema yang didiskusikan. Perangkat evaluasi yang tepat adalah murid diajak mencari solusi lewat berdiskusi kelompok tentang tema aktual yang dialami mayoritas remaja dan sikap yang harus diambil, seperti tema pacaran, free sex, penyalahgunaan narkoba dan sebagainya. Setelah pemecahan kasus, guru PAI melakukan observasi langsung secara rutin untuk mencocokkan antara uraian yang diberikan pada saat diskusi dengan perbuatan yang dilakukan sehari-hari.
Sedangkan pada aspek sejarah (tarikh), sudah saatnya murid tidak dibebani dengan materi ajar yang menjelaskan urut-urutan masa lalu dari kebudayaan Islam. Murid hendaknya diajak mengkaji bersama untuk mengambil pelajaran ('ibrah) dari peristiwa-peristiwa itu. Kemudian nilai-nilai yang sudah diperoleh itu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari untuk menghadapi kondisi yang ada. Upaya ini tentu juga memberikan ruang kepada murid yang cukup untuk melakukan analisis, atau bahkan mengkritik, sejarah Islam yang banyak ditulis dengan corak peperangan itu.
Keberadaan deep learning dalam pembelajaran PAI di sekolah makin menegaskan murid harus tetap dekat dengan lingkungan sekitarnya. Dengan karakter progresif dan didukung perangkat evaluasi yang aplikatif, diharapkan murid mampu belajar kesalehan sosial. Sehingga mereka mampu melihat dunia dengan cakrawala luas melalui pengusaan sains dan aktualisasi nilai-nilai yang berlaku pada masyarakatnya secara menyeluruh. Semoga.***
*Guru Ahli Madya PAI di SMAN 1 Jombang
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di Sini