Oleh: Hari Prasetia*
SketsaNusantara.id - Sejarah bangsa Indonesia selalu digerakkan oleh energi muda. Dari Rengasdengklok hingga Tritura, dari ruang-ruang diskusi kampus hingga jalanan ibukota, pemuda selalu menjadi sumbu perubahan sosial. Namun, hari ini, peran pemuda seakan kehilangan arah. Dunia maya menjadi panggung utama, sementara dunia nyata kian sepi dari kerja nyata. Dalam kondisi seperti ini, gagasan bahwa organisasi adalah jalan keselamatan menemukan relevansinya kembali—sebagai ruang pembentukan kesadaran, bukan sekadar wadah kegiatan.
Rengasdengklok-Tritura: DNA Pergerakan yang Teruji
Sejarah tidak pernah memisahkan pemuda dari peran transformatifnya. Ketika Ir. Sukarno dan Mohammad Hatta “diculik” ke Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945, itu bukan tindakan kriminal, melainkan ekspresi keberanian anak muda untuk mendesak kemerdekaan segera diproklamasikan. Para pemuda sadar bahwa menunda berarti kehilangan momentum sejarah.
Dua dekade kemudian, generasi yang sama melahirkan Tritura—Tiga Tuntutan Rakyat—yang mengguncang Orde Lama dan menandai lahirnya babak baru politik Indonesia. Semangat itu bukan sekadar amarah, melainkan kesadaran kolektif bahwa bangsa tidak boleh diam dalam ketidakadilan. Bahkan hingga pergerakan Agustus kemarin, gema idealisme itu masih terasa: bahwa perubahan selalu berawal dari keresahan, dan keresahan sejati hanya dimiliki oleh mereka yang berpikir dan peduli.
Kini, di era media sosial, role model manusia Indonesia mengalami pergeseran drastis. Generasi muda lebih akrab dengan dunia maya daripada dunia nyata. Mereka cepat menanggapi isu, tapi lambat bertindak. Kepekaan sosial terkikis oleh budaya scrolling; diskusi panjang digantikan komentar singkat; refleksi digantikan repost.
Inilah wajah baru liberalisme mental: keserakahan untuk pengakuan dan individualisme yang dibungkus estetika digital. Semua ingin viral, sedikit yang ingin memahami. Padahal, cita-cita besar bangsa tidak lahir dari timeline, melainkan dari ruang diskusi yang berpeluh, dari pertemuan panjang yang memeras pikiran dan menuntut komitmen.
Baca Juga: Heboh Istri Purbaya Yudhi Sadewa Mendapat Teror Paket Misterius Berisi Darah Segar, Benarkah?
Padahal, di masa lalu, gerakan kolektif menjadi tulang punggung perubahan sosial. Petani, buruh, pelajar, dan mahasiswa memiliki kesadaran kelas yang jelas: siapa lawan, siapa kawan, dan apa yang diperjuangkan. Kini, semangat itu memudar karena gerakan sosial terserak dalam ego sektoral dan kepentingan pragmatis. Bahkan politik lima tahunan serigkali menjadi “proyek ekonomi”—money politics bukan lagi skandal, tetapi mekanisme yang dimanfaatkan oleh para oknum.
Dalam situasi seperti ini, peran organisasi menjadi sangat penting. Ia bukan sekadar lembaga kaderisasi formal, tetapi pendidikan alternatif—tempat melatih kepekaan sosial dan nalar kritis yang tak diajarkan dalam bangku kuliah.
Pendidikan Alternatif dan Intelektual Organik
Antonio Gramsci, pemikir Marxis Italia, membedakan antara intelektual menara gading dan intelektual organik. Yang pertama hidup di ruang elitis, berbicara untuk sesamanya, dan jauh dari realitas rakyat. Yang kedua lahir dari rahim masyarakat, berbicara dengan bahasa rakyat, dan bekerja untuk rakyat.
Baca Juga: Yudo Sadewa Buat Heboh Lagi! Putra Purbaya Yudhi Sadewa Ungkap Keluarganya Mendapat Kiriman Santet
Artikel Terkait
Emil Salim Keponakan Agus Salim? Sosok Intelektual yang Terlibat Dalam Panitia Sembilan Perumus Dasar Negara
Refleksi Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2025, Pemuda dan Ancaman Disintegrasi Bangsa
PMII dan Tantangan Melahirkan Intelektual Muslim di Era Digital