SketsaNusantara.id - Sunan Kalijaga dikenal sebagai salah satu Wali Songo dengan metode dakwah yang luas.
Ia tidak hanya berdakwah melalui tembang dan wayang, tetapi juga mengajarkan politik, pertanian, hingga nilai-nilai tasawuf.
Oleh karena itu, kisahnya tersebar di berbagai daerah di Jawa, baik dalam historiografi maupun cerita rakyat.
Baca Juga: Gus Dur Ungkap Makam Guru Syekh Siti Jenar di Ngawi, Jejak Islam Kejawen yang Terlupakan
Namun, tak hanya Sunan Kalijaga yang dikenal sakti. Putranya, Sunan Panggung, juga memiliki kisah yang tak kalah melegenda.
KH Agus Sunyoto dalam buku Atlas Wali Songo menyebutkan bahwa sang putra berguru kepada Syekh Siti Jenar dan menganut ajaran yang dianggap kontroversial.
Akibatnya, ia dituduh menistakan agama dan dijatuhi hukuman mati oleh sidang Wali Songo.
Salah satu tindakan Sunan Panggung yang dianggap keterlaluan adalah menamai dua anjingnya dengan sebutan Ki Tokid (tauhid) dan Ki Iman, lalu membawanya bermain di dalam masjid.
Perbuatannya dianggap mencoreng kesucian rumah ibadah, sehingga ia dijatuhi hukuman bakar hidup-hidup oleh Sultan Syah Alim Akbar di Demak.
Ketika api mulai membakar tubuhnya, sebuah kejadian tak terduga terjadi. Bukannya menjerit kesakitan, Sunan Panggung justru tetap tenang dan mulai menulis puisi.
Bahkan, ia menyusun sebuah naskah puitis berjudul Suluk Marang Sumirang, yang berisi ajaran spiritual mendalam.
Ia mempersembahkan naskah itu kepada Sultan yang menjatuhkan hukuman padanya.