SketsaNusantara.id - Dalam dunia wayang kulit, banyak tokoh yang memiliki versi berbeda tergantung daerahnya.
Salah satunya adalah Antasena, tokoh wayang yang hanya ada dalam versi Jawa, khususnya Yogyakarta.
Sosok ini tidak ditemukan dalam Mahabharata India, menjadikannya unik dalam jagat pewayangan Nusantara.
Berbeda dengan Surakarta yang menyebut Antasena sebagai nama lain dari Antareja, di Yogyakarta keduanya dianggap sebagai tokoh yang berbeda.
Meski sama-sama anak Bima dan memiliki kesaktian luar biasa, karakter mereka tidaklah sama. Antareja digambarkan lebih serius dan pendiam, sedangkan Antasena cenderung bebas dan tidak peduli dengan tata krama istana.
Dikutip SketsaNusantara.id dari buku Ensiklopedi Wayang Indonesia Edisi Revisi Aksara, terbitan Sena Wangi tahun 2019, Antasena adalah anak bungsu Bima dari Dewi Urangayu, putri penguasa lautan Sang Hyang Baruna.
Baca Juga: 3 Duet Maut di Wayang Kulit Jawa, Anak-Anak Pandawa Paling Sakti dan Kompak di Babak Perang Kembang
Lahir dari keturunan manusia, dewa, dan samudra, ia memiliki kekuatan luar biasa. Kulitnya bersisik kemerahan seperti udang, membuatnya mampu hidup di darat maupun di air. Kesaktiannya konon tak tertandingi, bahkan oleh para dewa sekalipun.
Salah satu hal yang membuat Antasena begitu menarik adalah penokohannya yang misterius. Ia digambarkan sebagai sosok yang tidak terikat dengan aturan duniawi, berbicara blak-blakan tanpa peduli unggah-ungguh. Karakter seperti ini membuat banyak dalang merasa ragu untuk membawakannya dalam pertunjukan wayang.
Dalam dunia pewayangan, biasanya ada batasan moral yang membedakan tokoh baik dan jahat. Namun, Antasena seperti melampaui batasan itu. Kesaktiannya begitu besar sehingga tidak ada yang bisa mengalahkannya.
Karena itulah, banyak yang melihatnya sebagai sosok bijaksana yang tidak terikat oleh dunia, mirip dengan tokoh sufi dalam sejarah Islam seperti Syeh Siti Jenar atau Abdul Qadir Jaelani.
Sebagai seorang yang menempuh jalan kebijaksanaan sejati, Antasena digambarkan tidak tertarik dengan kekuasaan atau kehidupan duniawi.
Artikel Terkait
Kenapa Ada Banaspati dan Monyet di Pohon Tauhid Gunungan Wayang Kulit? Inilah Bukti Kecanggihan Dakwah Wali Songo di Nusantara
Dakwah Wali Songo Tergantung pada 4 Tokoh Wayang Kulit ini, Gambaran Para Nabi dan Rasul yang Sering Diremehkan
Arti Sebenarnya Wayang Kulit oleh Sunan Kalijaga serta Perbedaan Ashabul Yamin dan Ashabul Simal di Samping Dalang
Wayang Kulit Bukan Syirik! Ada Dalil Kuat dari Al Quran yang Jadi Pedoman Sunan Kalijaga
7 Hal yang Membuat Wayang Kulit Jadi Puncak Budaya Jawa Adiluhung, Bukan Sekadar Seni Pertunjukan