Seperti dikutip SketsaNusantara.id dari Buku Atlas Wali Songo yang ditulis oleh Agus Sunyoto cetakan 2017, pelana kuda Raden Umar Said itu disimpan di Kompleks Makam Sunan Muria.
Kondisi pelana kuda Sunan Muria itu memang tidak sebagus dulu dan terlihat sudah rusak dan nampaknya tidak bisa digunakan untuk memacu kuda.
Namun, masyarakat sekitar Kompleks Makam Sunan Muria percaya dengan karomah yang diberikan Tuhan kepada tokoh Wali Songo tersebut.
Setiap tahun apabila kemarau dan lama tak turun hujan, masyarakat melakukan rutinitas atau tradisi yang disebut guyang cekathak.
Tradisi ini merupakan kegiatan membasuh atau membersihkan pelana kuda Sunan Muria yang dilakukan warga Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus.
Warga bersama dengan Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria melakukan tradisi dengan sejumlah pelengkap seperi bawaan nasi berkat.
Kegiatan dilakukan dengan tahlil dan doa di aula Kompleks Masjid dan Makam Sunan Muria.
Setelah itu dilakukan iring-iringan sambil bersholawat membawa pelana kuda Sunan Muria menuju ke Sendang Rejoso yang berjarak sekitar setengah kilometer.
Saat sampai di Sendang Rejoso, pelana kuda Sunan Muria dibersihkan dengan air sendang dilanjutkan dengan makan berkat bersama.
Simbol atau filosofi guyang cekathak merupakan istighosah memohon kepada Allah SWT untuk meminta diturunkannya hujan terutama di musim kemarau.
Hal yang unik dari kegiatan ini di akhiri dengan menaburkan cendol dawet sebagai simbolis turunnya hujan.