SketsaNusantara.id - Nama Presiden keempat Republik Indonesia, KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, hingga kini masih dikenang sebagai salah satu tokoh bangsa yang memiliki pengaruh besar dalam menjaga persatuan Indonesia. Tidak hanya dikenal sebagai ulama, pemikir, dan negarawan, Gus Dur juga sering dikaitkan dengan berbagai kisah keteladanan yang dianggap sebagai bentuk keistimewaan atau karomah.
Salah satu pandangan menarik mengenai sosok Gus Dur disampaikan oleh ulama asal Rembang, Jawa Tengah, KH. Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang lebih dikenal sebagai Gus Baha.
Dalam sebuah kajian yang diunggah melalui kanal YouTube "NU Online", Gus Baha menilai ada satu karomah besar yang ditunjukkan Gus Dur ketika menghadapi peristiwa pelengserannya dari kursi Presiden Republik Indonesia pada tahun 2001.
Baca Juga: Gus Dur, Cina dan Islam
Menurut Gus Baha, tidak banyak pemimpin yang mampu menerima kehilangan kekuasaan dengan cara damai ketika memiliki dukungan massa yang besar. Namun, hal itulah yang dilakukan Gus Dur saat menghadapi situasi politik yang sangat panas pada masa itu.
"Ada pemimpin yang dilengserkan, tetapi pelengseran itu justru menjadi prestasi dan amal yang mendatangkan ridha Allah," ujar Gus Baha dalam kajian yang tayang di kanal YouTube NU Online.
Pernyataan tersebut merujuk pada sikap Gus Dur yang memilih tidak melakukan perlawanan terbuka ketika Sidang Istimewa MPR memutuskan untuk memberhentikannya sebagai presiden. Padahal, saat itu situasi politik nasional berada dalam kondisi yang sangat tegang dan berpotensi menimbulkan konflik horizontal di berbagai daerah.
Gus Baha menjelaskan bahwa keputusan Gus Dur untuk mengalah bukanlah bentuk kelemahan. Sebaliknya, keputusan tersebut menunjukkan kebesaran jiwa seorang pemimpin yang menempatkan keselamatan rakyat dan keutuhan bangsa di atas kepentingan jabatan.
"Jangan sampai ada darah yang menetes hanya karena mempertahankan kekuasaan," demikian prinsip yang sering dikaitkan dengan sikap politik Gus Dur.
Dalam berbagai catatan sejarah, Gus Dur memang dikenal sebagai sosok yang menolak penggunaan kekerasan sebagai jalan penyelesaian konflik. Ketika keputusan MPR menetapkan dirinya tidak lagi menjabat sebagai presiden, ia memilih meninggalkan Istana Negara tanpa perlawanan.
Baca Juga: Membludak, Jamaah Padati Puncak Haul Ke-16 Gus Dur di Tebuireng
Padahal, saat itu ribuan pendukungnya masih menunjukkan loyalitas dan siap memberikan dukungan politik. Namun Gus Dur justru meminta para pendukungnya untuk tetap tenang dan tidak melakukan tindakan yang dapat memicu bentrokan dengan aparat keamanan.
Sikap tersebut dinilai menjadi salah satu faktor penting yang membuat Indonesia terhindar dari konflik besar di tengah transisi politik yang sensitif. Banyak pengamat menilai bahwa jika Gus Dur memilih jalur konfrontasi, situasi nasional saat itu berpotensi berkembang menjadi kerusuhan yang lebih luas.