SketsaNusantara.id – Irak merupakan salah satu negara yang dikunjungi oleh KH Abdurrahmad Wahid atau Gus Dur saat muda, sekitar tahun 1960 an. Di Irak, presiden RI ke 4 ini menghabiskan waktunya untuk belajar.
Selama tiga tahun pertama, Gus Dur muda menyewa sebuah vila yang luas di Baghdad dan menjadikannya tempat sebagai kediaman bersama 19 temannya.
Mereka cukup mempunyai uang dari beasiswa yang diterima. Tidak hanya itu, mereka juga menerima uang dari hasil kerja paro waktu. Vila ini pun menjadi tempat tinggal yang menyenangkan untuk ukuran mahasiswa sebagai tempat tinggal mahasiswa. Vila ini ditandai dengan suasana kebersamaan yang menyenangkan serta percakapan-percakapan yang hidup dan kebanyakan menarik.
Para mahasiswa itu mengumpulkan iuran untuk membiayai urusan rumah tangga sehari-hari dan sewa vila itu.
Para mahasiswa ini mendapat giliran menyiapkan hidangan setiap 20 hari sekali. Keistimewaan Gus Dur adalah menyiapkan kari kepala ikan. Ini merupakan makanan yang sangat lezat bagi orang Indonesia yang sepenuhnya suatu kebetulan.
Pada masa awal ia tinggal di Baghdad, demikian cerita Gus Dur seperti tertulis dalam buku Biografi Gus Dur karangan Greg Barton, ia sempat menjumpai sebuah toko yang menjual ikan dekat tempat tinggalnya itu. Diperhatikan olehnya bahwa orang Irak tidak makan kepala ikan.
Baca Juga: Gus Dur Hapus Dwifungsi ABRI, Mengapa Kini Mau Dihidupkan Lagi?
Kepala ikan dibuang begitu saja atau diberikan pada binatang peliharaan. Oleh karena itu, pada suatu hari ia mendatangi pemilik toko itu dan meminta 20 kepala ikan ukuran besar. Pemilik toko itu terkejut. “Untuk apa kepala ikan sebanyak itu?,” tanya pemilik toko tersebut.
“Hmm, saya memelihara anjing,” jawab Gus Dur.
“Berapa banyak?” sahut si pemilik toko.
“Dua puluh,” jawab Gus Dur sambil menahan tawanya.
Si pemilik toko pun setuju dan sejak itu setiap 20 hari sekali Gus Dur mendatangi toko itu dan membawa pulang 20 kepala ikan ukuran besar. Sebagai tanda membeli, ia memberikan kepada pemilik toko itu beberapa buah mata uang logam.
Baca Juga: Gus Dur Ungkap Makam Guru Syekh Siti Jenar di Ngawi, Jejak Islam Kejawen yang Terlupakan
Artikel Terkait
Mengenang 15 Tahun Wafatnya KH Abdurrahman Wahid: Gus Dur dan Tradisi Literasi
Beda dengan Gus Dur, Cak Imin Tegas Menolak Wacana Libur Sekolah Selama Ramadhan
Pernah Dilarang Soeharto, Inilah Sejarah Panjang Perayaan Imlek di Indonesia hingga Gus Dur Dijuluki Bapak Pluralisme