Setibanya di rumah, ia pun membuat kari kepala ikan yang lezat. Masakan ini hampir sepenuhnya gratis; lagi pula teman-teman serumahnya sangat menyukainya. Hal ini berlangsung selama lebih dari 1 tahun dan merupakan suatu pengaturan yang hampir ideal.
Akan tetapi kemudian, pada suatu hari mahasiswa-mahasiswa ini menerima tamu resmi dari Indonesia. Kedutaan Besar Indonesia mengusulkan agar diadakan jamuan makan khusus di rumah tersebut.
Lalu para mahasiswa ini, dengan gaya khas Indonesia yang sukar ditiru oleh orang lain, membentuk sebuah panitia dan memulai mengadakan persiapan salah seorang teman Gus Dur diberi tugas memasak dan ia ingin menyiapkan hidangan ikan di samping hidangan daging kambing dan daging sapi yang telah direncakan sebelumnya.
Baca Juga: Karena Jasa Besarnya pada Imlek dan Etnis Tionghoa, Gus Dur Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
Teman Gus Dur tersebut pergi ke toko yang biasa dikunjungi oleh Gus Dur. Si pemilik toko mengenali orang ini dan berkomentar sambil tertawa: “Temanmu sangat aneh,” kata pemilik toko.
“Kenapa?” tanya teman Gus Dur itu.
“Ia memelihara banyak anjing. Bayangkan, 20 anjing!” kata pemilik toko terheran.
Mendengar jawaban si pemilik toko, mahasiswa ini pulang ke rumah dan menumpahkan kemarahannya kepada Gus Dur.
“Sampai hati kau samakan kami dengan anjing?” kata teman Gus Dur menggerutu.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini
Artikel Terkait
Mengenang 15 Tahun Wafatnya KH Abdurrahman Wahid: Gus Dur dan Tradisi Literasi
Beda dengan Gus Dur, Cak Imin Tegas Menolak Wacana Libur Sekolah Selama Ramadhan
Pernah Dilarang Soeharto, Inilah Sejarah Panjang Perayaan Imlek di Indonesia hingga Gus Dur Dijuluki Bapak Pluralisme