Buya Yahya menekankan perlunya memahami apa yang ada dalam Ramadhan. Pemahaman ini akan menentukan sikap seseorang saat menjalani ibadah. Tanpa pemahaman, Ramadhan mudah berlalu tanpa bekas.
Proses memahami ini dilakukan dengan mencermati makna, keutamaan, dan tanggung jawab selama Ramadhan. Dari sini, kesiapan batin akan semakin kuat.
3. Memaknai Penyambutan Ramadhan Secara Nyata
Menyambut Ramadhan bukan hanya ucapan. Buya Yahya mengingatkan bahwa memuliakan Ramadhan berarti memenuhi hak-haknya. Ucapan Ramadhan Mubarak tidak cukup jika tidak diikuti tindakan.
Ia memberi gambaran tentang tamu yang disambut tanpa dipersiapkan. Analogi ini menunjukkan bahwa penghormatan harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan formalitas.
Hak Ramadhan diwujudkan melalui kesiapan menjalankan ibadah. Puasa, tarawih, dan kekhusyukan menjadi bagian dari penghormatan tersebut.
4. Menyiapkan Ibadah sebagai Bentuk Penghormatan
Dalam ceramahnya, Buya Yahya mengingatkan bahwa Ramadhan sering disambut meriah, tetapi haknya diabaikan. Ketika Ramadhan datang, sebagian orang justru tidak menyiapkan ibadah dengan sungguh-sungguh.
“Mana tarawih? Mana puasa? Mana khusyuk?” tanya Buya Yahya.
Pertanyaan ini menjadi pengingat bahwa ibadah adalah inti Ramadhan. Tanpa kesiapan ibadah, penyambutan Ramadhan kehilangan maknanya.
5. Menjauhkan Ramadhan dari Sekadar Pencitraan
Buya Yahya juga menyoroti kecenderungan menjadikan Ramadhan sebagai momen eksistensi. Media sosial kerap menjadi panggung utama, sementara kesiapan hati terabaikan.
Ia mengingatkan pentingnya memantapkan hati sebelum Ramadhan tiba. Dengan kesiapan itu, Ramadhan tidak berhenti sebagai peristiwa visual, tetapi menjadi waktu ibadah yang hidup dan bermakna.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!