SketsaNusantara.id - Perdebatan tentang makna sikap santri terhadap guru kembali mencuat di ruang publik.
Sebagian pihak menilai bahwa tindakan bersimpuh di hadapan guru merupakan simbol feodalisme dan perbudakan.
Namun, sebagian lainnya melihatnya sebagai wujud hormat dan adab yang telah lama dijaga dalam tradisi pesantren.
Baca Juga: Buya Yahya Bagi-Bagi Modal Gratis Rp25 Juta Hanya Modal Jujur? Cek Kebenaran Videonya di Sini
Menanggapi hal ini, Buya Yahya memberikan pandangan yang menekankan pentingnya cara seseorang memandang sebuah peristiwa.
Dalam sebuah ceramahnya, ia mengingatkan agar masyarakat tidak menilai secara serampangan hanya berdasarkan perasaan benci atau suka terhadap seseorang.
“Cara memandang, kalau kita memandang apa-apa dengan kebencian, yang baik pun akan kita jadikan tidak baik. Ini adalah permasalahan cara pandang. Kalau dengan cinta buta, yang tidak baik pun jadi baik. Maka kita perlu kejujuran dan keadilan di dalam memandang sebuah kejadian,” ujar Buya Yahya, dikutip SketsaNusantara.id dari unggahan video kanal Youtube Al-Bahjah TV.
Baca Juga: Marah pada Suami atau Istri? Inilah Pesan Buya Yahya agar Amarah Tak Jadi Bencana dalam Pernikahan
Buya Yahya kemudian mencontohkan sebuah kejadian tentang seorang ustaz yang duduk di hadapan gurunya dengan sikap sangat hormat.
Ustaz tersebut menundukkan kepala dan menolak untuk duduk sejajar di kursi. Namun, ada orang lain yang memandang tindakan itu sebagai bentuk perbudakan.
Menurut Buya Yahya, penilaian seperti itu muncul bukan karena perilaku ustaz tersebut, melainkan karena kebencian pribadi dari orang yang menilai.
“Berarti menilai perbudakan ini adalah karena benci atau tidak benci, itu saja. Jadi, ini rambu-rambunya,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa dalam tradisi Islam, sikap tawadhu atau rendah hati di depan guru merupakan adab yang dijunjung tinggi.