Sabtu, 4 Juli 2026

Lakon Wayang Sunan Kalijaga yang Paling Diminati saat Dakwah Islam di Tanah Jawa, Sarat Makna dan Pesan Spiritual

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Senin, 10 Februari 2025 | 08:00 WIB
Sunan Kalijaga punya lakon wayang kulit favorit semasa dakwah Islam di Nusantara. (Repro Buku Atlas Wali Songo/Kh Agus Sunyoto)
Sunan Kalijaga punya lakon wayang kulit favorit semasa dakwah Islam di Nusantara. (Repro Buku Atlas Wali Songo/Kh Agus Sunyoto)

Dalam kisah ini, Bima diperintahkan oleh gurunya, Resi Durna, untuk mencari "susuhing angin" atau sarang angin, sebuah simbol dari pengetahuan hakiki.

Dalam pencariannya, Bima akhirnya bertemu dengan sosok Dewa Ruci, makhluk kecil sebesar ibu jari, yang justru memiliki kebijaksanaan dan kekuatan luar biasa.

Dewa Ruci lalu mempersilakan Bima masuk ke dalam tubuhnya. Di dalam tubuh Dewa Ruci, Bima menyaksikan keajaiban dimensi spiritual yang tak terbatas, penuh cahaya dan kebijaksanaan.

Dari pengalaman tersebut, Bima memahami makna sejati dari perjalanan hidup dan pengetahuan ketuhanan.

Sunan Kalijaga memainkan lakon Dewa Ruci dengan pembabaran yang sangat mendalam, terutama dalam aspek tasawuf atau mistisisme Islam.

Dalam pertunjukannya, ia menggambarkan pengalaman ruhani Bima sebagai simbol perjalanan manusia menuju Tuhan. Kisah ini mengajarkan bahwa kebenaran sejati tidak ditemukan di luar diri, melainkan dalam pencarian batin dan pemahaman akan hakikat Tuhan.

Selain disampaikan secara terbuka dalam pertunjukan wayang, Sunan Kalijaga juga mengajarkan makna Dewa Ruci secara lebih mendalam kepada murid-muridnya.

Dalam pengajaran tertutup, ia mengungkapkan bahwa Dewa Ruci sejatinya adalah sosok Khidir, tokoh spiritual yang dalam banyak tradisi dianggap sebagai pembimbing para pencari kebenaran.

Dengan pendekatan yang halus namun mendalam, Sunan Kalijaga berhasil menyebarkan ajaran Islam melalui budaya lokal. Hingga kini, kisah Dewa Ruci tetap menjadi salah satu lakon wayang kulit yang paling dihormati dan dikenang, tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai pengajaran spiritual yang abadi.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: Atlas Wali Songo, Agus Sunyoto, Pustaka Iman, Jakarta, 2014

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X