SketsaNusantara.id - Kyai Nawawi Sidogiri memberikan pesan khusus bagaimana cara ketika kita ke pemakaman Sunan Ampel.
Pesan Kyai Nawawi ini mengupas tata cara ketika kita akan berziarah ke makam Sunan Ampel.
Dalam sebuah kisah diriwayatkan, seperti dilansir SketsaNusantara.id dari kanal YouTube Barokah Guru Official, disebutkan pesan Kyai Nawawi jika kita hendak ke makam Sunan Ampel maka jangan lupa mampir ke satu makam ini.
Baca Juga: Makam Djemilah Birnie, Pribumi yang Dinikahi oleh Saudagar Kaya Belanda, Jadi Asal-usul Nama Jember?
Makam yang dimaksud adalah makam Mbah Hamid yang dianggap sebagai pakunya Jawa Timur, terkhusus Pasuruan.
Jadi istilahnya sebelum kita ziarah ke makam yang jauh maka kita harus 'pamit' terlebih dahulu ke makam Mbah Hamid.
Kyai Nawawi Sidogiri sendiri juga masih merupakan salah satu keturunan Sunan Ampel.
Kyai Nawawi juga berpesan agar ketika di pesarean atau makam Sunan Ampel maka kita terlebih dahulu membaca Al Fatihah 100 kali.
Membaca Al Fatihah yang diawali dengan kalimat bismillah dalam keadaan duduk.
Dan selama membaca Al Fatihah juga tidak boleh bergerak atau berpindah tempat sampai selesai membaca Al Fatihah hingga 100 kali.
Jika kita memiliki hajat dan ingin terkabul maka maka kita bisa baca Al Fatihah sebanyak 100 kali itu tanpa terputus dan tidak berpindah tempat.
Setelah membaca Al Fatihah, lanjutkan dengan doa dan permohonan kepada Allah, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.
Artikel Terkait
Makam Kerkhof Hang Tuah Kota Tegal Jateng, Jejak Peninggalan Masa Belanda Terdapat Makam Berusia 200 Tahun
Amalan saat di Depan Pintu Makam Rasulullah, Gus Faiz Madura: 2 Doa yang Paling Afdol di Dunia, Jangan Sampai Tidak Diamalkan!
Sejarah Benteng Van Den Bosch hingga Keberadaan Makam Pengikut Pangeran Diponegoro yang Dikubur Hidup-Hidup
Makam Kyai Pahing, Keturunan Tokoh Muslim Penyebar Ajaran Kristen di Pulau Jawa, Pendiri Gereja Kristen Jawi Wetan?
Menelusuri Makam Eyang Jugo di Gunung Kawi, Konon jadi Guru Spiritual Pangeran Diponegoro
Makam Ki Ageng Pametjut, Pangeran Keraton Solo yang Terlupakan, Masih Cucu Sunan Kalijaga?