SketsaNusantara. id - Malam menjelang kemerdekaan Republik Indonesia selalu diperingati dengan menggelar doa bersama oleh warga Dusun Jayan, Desa Barongsawahan, Kecamatan Bandarkedungmulyo, Jombang.
Warga di dusun wilayah Kabupaten Jombang yang berbatasan dengan Kabupaten Kediri ini menyadari, bahwa kemerdekaan patut disyukuri. Berkumpul, menyanyikan lagu Indonesia Raya, mendengarkan renungan perjuangan leluhur, lalu doa bersama.
Itulah rangkaian yang dilalui warga yang mayoritas NU dan Muhammadiyah tersebut.
Kepala Desa Barongsawahan, Iman Saputro mengatakan, kemerdekaan bangsa ini wajib diisi hal-hal yang positif. Sebab, kata dia, modal para pejuang untuk meraih kemerdekaan dulu diraihnya tidak sekadar harta dan benda. Nyawa pun ditaruhkan demi bebas dari cengkeraman penjajah.
"Perjuangan para pahlawan dalam mengusir penjajah telah berkorban segalanya, bahkan nyawa menjadi taruhan agar rakyat kita merdeka. Untuk itu, kami mohon kepada semua agar mengisi kemerdekaan ini dengan hal positif," papar Iman, Minggu 16 Agustus 2026.
Pria yang akrab disapa Asep ini menambahkan, di tahun ini warga di desanya telah menerima program nasional (prona) berupa PTSL (pendaftaran tanah sistematis lengkap).
Lalu, apa kaitanya dengan peringatan Kemerdekaan RI ini? Menurutnya, hal itu merupakan bagian dari mengisi kemerdekaan RI.
"Program ini dari pemerintah pusat yang diperuntukkan bagi warga pemilik lahan yang belum memiliki bukti kepemilikan secara sah. Ini bagian dari mengisi kemerdekaan. Artinya, warga yang semula belum memiliki sertifkat tanah, akan memilikinya secara gratis," paparnya.
Agar pemerintahan desa yang dipimpinnya berjalan lebih baik, ia meminta kepada warganya untuk selalu memberi masukan. "Mohon kepada semua warga untuk selalu memberi masukan kepada kami bila mana dalam pelayanan masih dinilai kurang. Ini demi kemajuan desa kita," pinta Asep.
Dalam kesempatan sama, H Tialis memaparkan sejarah singkat perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia.
Dikatakan, perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah dibagi dalam 4 generasi.
Generasi pertama, ungkap eks guru sejarah ini, adalah generasi gagal melakukan perlawanan penjajah. "Pada saat itu sudah ada perlawanan, namun gagal," beber Tialis.
Dicontohkan, pahlawan yang mengalami kegagalan mengusir Belanda antara lain; Sultan Hasanuddin (1630), Pattimura (1834), Pangeran Diponegoro (1825-1830), dan Teuku Umar (1854).
Artikel Terkait
Apa Itu Malam Tirakatan? Mengenal Sejarah Tradisi Berkumpul Jelang 17 Agustus yang Sarat Makna, Ternyata Ada Kaitannya dengan Kraton Yogyakarta
Mengapa Muhammadiyah Kerap Berbeda dalam Menetapkan Awal Puasa Penjelasan Metode Hisab hingga Kalender Hijriyah Global Tunggal
Abadikan 25 Kiai Muassis NU dalam Satu Bidang Kanvas, Lukisan J Hasanto Bakal Sambut Muktamirin