Minggu, 16 Agustus 2026

Gus Yahya Ungkap Visi Geopolitik Mbah Wahab di Bedah Buku Unwaha Jombang, Aktif di SI Hingga Dirikan 3 Organisasi Cikal Bakal Lahirnya NU

Photo Author
As'ad Choirudin, Sketsa Nusantara
- Minggu, 16 Agustus 2026 | 14:10 WIB
Ketua PBNU, KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya. (SketsaNusantara.id)
Ketua PBNU, KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya. (SketsaNusantara.id)

 

SketsaNusantara.id - Pemikiran salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Wahab Hasbullah menjadi perhatian khusus terselenggaranya Muktamar ke 35 yang bakal dihelat di Tambakberas, Jombang

Sabtu 15 Agustus 2026, malam, di auditorium Universitas KH Wahab Hasbullah (Unwaha) Tambakberas, Jombang, telah digelar bedah buku pemikiran serta rekam jejak geopolitik kiai yang akrab disapa Mbah Wahab tersebut.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf menjadi pembicara utama bedah buku karya H Abdul Mun’im DZ setebal 262 halaman itu. 

Gus Yahya, sapaan akrabnya, membawa misi penting mengajak seluruh komponen jam’iyah menengok kembali akar sejarah dan fondasi perjuangan para muassis.

Bedah buku terbitan Unwaha Press 2024 tersebut menjadi pintu masuk utama untuk menguraikan rekam jejak pergerakan KH Abdul Wahab Hasbullah.

Baca Juga: Kompak Kenakan Seragam Merah Putih, Ribuan Pengunjung Pengajian di Jombang Lantunkan Shalawat Peringati HUT RI dan Doakan Kesuksesan Muktamar NU 2026

Berbagai sumber mencatat, kematangan berpikir Mbah Wahab tidak lepas dari masa penempaan dirinya saat menimba ilmu di Makkah. Ditambah keaktifannya dalam organisasi pergerakan Sarekat Islam (SI).

Gagasan besar dan semangat kebangsaan yang diusung Mbah Wahab langsung diwujudkan secara riil lewat berbagai langkah taktis dan strategis sepulang dari Tanah Suci.

“Yang menarik dari Mbah Wahab adalah kemampuannya membaca perubahan dunia. Ia tidak hanya berpikir soal pesantren, tetapi juga soal arah politik dan masa depan umat,” papar Gus Yahya.

Langkah terobosan awal dimulai pada 1916 ketika Mbah Wahab mendirikan Nahdlatul Wathan. Wadah ini, lanjutnya, sebagai wahana persemaian pemikiran agama dan pendidikan kebangsaan bagi generasi muda.

"Nahdlatul Wathan kelak berkembang pesat dari sekadar ruang diskusi menjadi jaringan lembaga pendidikan madrasah. Ia mengakar luas di Jawa Timur hingga Jawa Barat," terang Gus Yahya.

Baca Juga: Jelang Muktamar ke-35 NU, Doa Bersama dan Tumpengan Menjadi Penanda Persiapan Lokasi Pembukaan

Pada 1918, perjuangan berlanjut saat Mbah Wahab menggerakkan Nahdlatut Tujjar atau Gerakan Pedagang. Gerakan ini, ungkapnya, untuk menghimpun potensi para saudagar Surabaya demi kemandirian ekonomi umat.

Mbah Wahab, lanjutnya, pada tahun itu juga menginisiasi pembentukan Tashwirul Afkar. "Organisasi ini sebagai wadah pertukaran gagasan strategis bagi para kiai, guru, dan cendekiawan muslim kala itu," sebutnya.

Halaman:

Editor: As'ad Choirudin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X