Minggu, 16 Agustus 2026

Gus Yahya Ungkap Visi Geopolitik Mbah Wahab di Bedah Buku Unwaha Jombang, Aktif di SI Hingga Dirikan 3 Organisasi Cikal Bakal Lahirnya NU

Photo Author
As'ad Choirudin, Sketsa Nusantara
- Minggu, 16 Agustus 2026 | 14:10 WIB
Ketua PBNU, KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya. (SketsaNusantara.id)
Ketua PBNU, KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya. (SketsaNusantara.id)

Ketiga pilar utama—Nahdlatul Wathan, Nahdlatut Tujjar, dan Tashwirul Afkar—itulah yang kemudian menyatu menjadi fondasi paling menentukan dalam pengesahan berdirinya NU pada 1926.

Pemaparan historis tersebut disampaikan Gus Yahya dengan artikulasi yang amat jernih dan tegas hingga membakar semangat ribuan akademisi, santri, serta pengurus NU yang hadir.

Pembacaan Geopolitik Mbah Wahab

Poin paling krusial yang disoroti Gus Yahya adalah pembacaan geopolitik Mbah Wahab terkait dinamika Islam global pasca-runtuhnya Khilafah Utsmaniyah pada dekade 1920-an.

Baca Juga: Semarakkan Muktamar ke 35 NU, Kitab Klasik Karangan Ulama Bakal Disuguhkan Pada Pameran dan Seminar Turots

"Arsip sejarah merekam bahwa Mbah Wahab sejatinya mendapatkan undangan khusus untuk menghadiri Muktamar Khilafah. Kala itu digelar di Arab Saudi pada era transisi," ungkapnya.

Namun, alih-alih bertolak ke Saudi, Mbah Wahab secara formal menyatakan batal berangkat dengan alasan yang saat itu disebutkan karena tertinggal kapal.

Gus Yahya menegaskan, bahwa alasan "tertinggal kapal" tersebut sesungguhnya merupakan bentuk diplomasi dan penolakan yang dikemas secara amat halus khas ulama Nusantara.

"Sejatinya, Mbah Wahab secara tegas tidak menyetujui jika Arab Saudi dijadikan sebagai pusat atau basis khilafah baru pengganti penguasa Turki Utsmani," terang Gus Yahya.

Sikap kritis tersebut, lanjutnya, dilandasi penilaian objektif Mbah Wahab. Mbah Wahab, lanjut dia, beralasan bahwa paham Wahabisme yang dominan di Hijaz memiliki sanad keilmuan yang terputus (muqathi') dari rantai peradaban Islam.

Baca Juga: Ramah Lingkungan, Panlok PP Bahrul Ulum Jombang Terjunkan 700 Santri Sebagai Carbon Warriors Bakal Bersihkan Sampah Muktamar NU

Pandangan itu bertolak belakang dengan tradisi keislaman Nusantara yang memegang teguh sanad keilmuan bersambung (muttashil) di atas pijakan Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja).

"Keputusan Mbah Wahab melepaskan momentum muktamar di Saudi dan berfokus membangun gerakan di dalam negeri membuktikan ketajaman visinya terhadap iklim politik Timur Tengah," papar Gus Yahya.

Langkah pendirian Nahdlatul Ulama bersama para kiai di tanah air menjadi sebuah peristiwa besar yang mencatatkan tinta emas dalam panggung sejarah peradaban dunia.

Keunikan NU terletak pada karakter pergerakannya yang lahir dari tangan dingin para ulama di bawah cengkeraman penjajahan, bukan dari lingkaran penguasa politik atau militer.

Halaman:

Editor: As'ad Choirudin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X