SketsaNusantara.id - Jika ditelusuri secara mendalam, ada banyak simbol tersirat dari karakter Bima alias Werkudara alias Brotoseno.
Tokoh Pandawa Lima dalam dunia wayang kulit ini digambarkan memiliki kekuatan luar biasa dengan keteguhan hati yang sangat kokoh.
Ia juga digambarkan sebagai sosok yang tidak mau menggunakan bahasa Jawa halus atau tingkat tinggi kepada para dewa dan bangsawan.
Hanya ada 2 momen saat ia menggunakan bahasa halus, pertama dalam lakon Bima Suci karena perannya sebagai seorang pendeta.
Sedangkan momen kedua adalah saat ia akhirnya bertemu Dewa Ruci yang sangat ia hormat, sebagai perwujudan dari puncak perjalanan spiritualnya.
Kekuatan fisik dan keteguhan hati juga menjadi perlambang dari Rukun Islam ke-2 yakni sholat.
Itulah kenapa ia sangat irit bicara karena selalu mampu menjaga lisan serta perbutannya dari hal-hal mudharat.
Selain itu, ada 2 hal yang menjadi simbol Surat Al Fatihah dari senjata andalan Bima.
Senjata tersebut berada di dalam kedua tangannya yakni kuku pancanaka.
"Dua kuku pancanaka di sini juga bisa mensimbolkan bahwa harus betul-betul setia dan juga kuat pada 2 kata; 'Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in'. Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan," ujar Ustadz Faizar dikutip SketsaNusantara.id dari video kanal Youtube Muhammad Faizar yang diunggah 20 November 2021.
Dua kalimat tersebut merupakan bagian dari Surat Al Fatihah ayat ke-5.
Artikel Terkait
Revolusi Wayang: Ide Jenius Sunan Kalijaga hingga Islam Menyebar Luas di Jawa, Dulu Hiburan Kaum Bangsawan
Sunan Kalijaga Sukses Syiarkan Islam di Jawa Lewat Tokoh Punakawan, Mau Nanggap Wayang Cukup Bayar Dua Kalimat Syahadat
Jamus Kalimosodo Senjata Ampuh Puntadewa, Warisan Dakwah Sunan Kalijaga di Wayang Kulit, Jimat Paling Ampuh untuk Manusia
Makna Gunungan atau Kayon dalam Wayang Kulit, Bentuknya seperti Masjid dan jika Dibalik Berwujud...
Beginilah Cara Orang Jawa Berkomunikasi tanpa Timbulkan Konflik, Jadi Metode Dakwah Islam lewat Wayang Kulit