Kuku-kuku tersebut menjadi perlambang surga, karena siapa saja yang menunaikan kewajiban 5 waktu (sholat), dijamin masuk ke dalamnya.
"Jadi, siapa yang mau melaksanakan 5 waktu itu memiliki kuku. Kuku itu melambangkan surga," lanjut Mbah Moen.
Kuku menjadi perlambang dari surga karena orang yang bersih pasti kuku-kukunya juga tidak ada noda atau kotoran.
"Surga itu di kuku. Kalian lihat, orang itu kalau kukunya bersih, orangnya pasti bersih. Orang yang kotor atau kasar pasti kukunya kotor," ujar Mbah Moen.
Saat Nabi Adam diturunkan ke dunia oleh Allah SWT, manusia akan berubah. Ketika sudah tua akan hilang ketampanan dan kecantikannya. Rambutnya akan memutih, kulitnya pun menjadi keriput.
Namun, yang masih tetap indah dan bagus adalah kuku.
Oleh karena itu, kuku menjadi patokan dari kebersihan seorang manusia. Melambangkan surga atau keindahan.
"Siapa yang mau masuk ke surga adalah yang memiliki pancanaka," kata Mbah Moen.
Artinya, mereka yang masuk ke surga adalah yang menjalankan 5 sholat 5 waktu (pancanaka).***
Artikel Terkait
Benarkah Wayang Kulit Sengaja Dibuat Sebagai Warisan Wali Songo? Sempat Jadi Kontroversi, Begini Sejarah Wayang Kulit Sunan Kalijaga
Peninggalan Sunan Kalijaga: Wayang Kulit Sebagai Warisan Budaya Keilmuan Abadi dan Kisah Seorang Wali yang Pernah Jadi Perampok
Asal Usul 6 Julukan Sunan Kalijaga, Wali Songo yang Berdakwah Lewat Wayang, Ada Nama Panggung Saat Jadi Dalang!
Cara Unik Sunan Kalijaga Berdakwah dengan Wayang dari Majapahit hingga Pajajaran, Penonton Disuruh...
Revolusi Wayang: Ide Jenius Sunan Kalijaga hingga Islam Menyebar Luas di Jawa, Dulu Hiburan Kaum Bangsawan