Minggu, 19 Juli 2026

Kenapa Awal Tahun Jawa dan Islam Sama? Sejarah Bulan Suro yang Dianggap Keramat Masyarakat Jawa dan Muharram di Kalender Hijriah

Photo Author
Anisa Maharani, Sketsa Nusantara
- Jumat, 5 Juli 2024 | 21:00 WIB
Ilustrasi malam 1 Suro atau 1 Muharram. (Pexels.com/Burak The Weekender)
Ilustrasi malam 1 Suro atau 1 Muharram. (Pexels.com/Burak The Weekender)

Dikutip dari Buku Dialektika Islam dan Budaya Nusantara: Dari Negosiasi, adaptasi, hingga Komodifikasi yang ditulis oleh Prof. Dr. Suprapto, M.Ag., ternyata sejarah malam 1 Suro berkaitan dengan Raja Mataram.

Bulan Suro sebagai awal bulan penanggalan Jawa dan Muharram di kalender Hijriah memiliki waktu sama atau berdekatan karena peran Sultan Agung, Raja Mataram.

Persamaan Suro dan Muharram adalah sama-sama bulan pertama dalam kalender atau penanggalan masing-masing.

Baca Juga: Waspada! Ini 5 Pantangan Malam 1 Suro, Jangan Lakukan Ini Jika Tak Mau Sial

Sultan Agung berhasil memadukan penanggalan Jawa yang mewarisi tradisi Hindu yaitu Tahun Saka dan penanggalan Hijriah.

Terjadi akulturasi budaya dalam hal ini yaitu Jawa dan Islam hingga menjadi kombinasi yang berpengaruh dan memiliki dampak bagi penyebaran Islam di Jawa.

Dikisahkan pada tahun 931 Hijriah Sultan Agung ingin rakyat bersatu untuk menggembur Belanda yang menduduki Batavia.

Untuk mempersatukan masyarakat di Tanah Jawa saat itu, dilakukan penyesuaian antara kalender Hijriah dan kalender masyarakat Jawa.

Baca Juga: Puasa Muharram Berapa Hari? Catat Jadwal dan Bacaan Niat Puasa Asyura hingga Ayyamul Bidh

Tujuan Sultan Agung saat itu supaya rayat menjadi satu dan tak ingin terpecah belah karena ada perbedaan keyakinan kalangan santri dan abangan.

Nama Suro sebagai bulan kalender Jawa diambil dari Asyura, hari kesepuluh di bulan Muharram.

Tujuan lain akulturasi penanggalan ini supaya Tahun Baru Islam dan hari besar lainnya mudah diingat oleh masyarakat Jawa.

Walaupun bulan dan penanggalan Suro dan Muharram sama, tahun yang diambil tetap mengikuti dasarnya.

Peringatan 1 Muharram mengikuti tahun Hijriah, sedangkan 1 Suro mengikuti tahun Saka.

Sehingga, akulturasi penanggalan bulan Suro kalender Jawa dengan Muharram kalender Hijriah merupakan stategi dakwah dan penyebaran ajaran Islam.***

Halaman:

Editor: Anisa Maharani

Sumber: Buku Dialektika Islam dan Budaya Nusantara

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X