Kamis, 4 Juni 2026

Asimilasi Budaya: Sejarah Pembentukan Masyarakat Muslim Nusantara, Benarkah Kisah Tokoh Islam Pra Wali Songo Cuma Jadi Legenda Semata?

Photo Author
Erik Kusmiati, Sketsa Nusantara
- Jumat, 28 Juni 2024 | 21:58 WIB
Asimilasi Budaya sebagai pembentukan masyarakat muslim Nusantara dari Wali Songo. (Pixabay/sasint)
Asimilasi Budaya sebagai pembentukan masyarakat muslim Nusantara dari Wali Songo. (Pixabay/sasint)

Pertumbuhan kota-kota bercorak Islam di pesisir utara dan timur Sumatera di Selat Malaka sampai ke Ternate melalui pesisir utara Jawa ada hubungannya dengan faktor ekonomi di bidang pelayaran dan perdagangan

Selain itu tumbuhnya pusat-pusat kota kerajaan di Jawa Barat seperti Cirebon, Jayakarta, dan Banten membentuk pola jalinan Perhubungan pelayaran, perekonomian, dan politik dengan Demak sebagai pusat Kerajaan Islam yang besar pada abad ke-16.

Keberadaan Kerajaan Demak digambarkan sebagai kekuatan politik Islam pertama di Jawa yang kelahirannya di latar belakangi oleh Wali Songo.

Bahkan tumbuhnya kota Demak melalui Babad Tanah Jawi adalah atas persetujuan Sunan Ampel yang merupakan tokoh Wali Songo.

Secara sosiologis keberadaan Wali Songo hampir selalu dihubungkan dengan pusat-pusat kekuatan Cetre Power masyarakat yang dicirikan oleh identitas dakwah Islam.

Baca Juga: Berdakwah di Gresik, Mau Tau Karomah Terhebat Sunan Giri Wali Songo? Sosok Ini Berhasil Mengubah Angsa Menjadi...

Dilansir SketsaNusantara.id dari Buku Atlas Wali Songo Agus Sunyoto Inilah sejarah pembentukan masyarakat muslim nusantara melalui proses asimilasi budaya.

Ditinjau dari aspek kronologi kesejarahan keberadaan Wali Songo selalu dikaitkan dengan tumbuhnya masyarakat muslim yang memiliki ciri-ciri tidak sama dengan masyarakat yang hidup di era Majapahit.

Proses Islamisasi di Indonesia terjadi dengan proses yang sangat pelit dan panjang, diterimanya Islam oleh penduduk pribumi secara bertahap membuat Islam terintegrasi dengan tradisi, norma, dan cara hidup keseharian penduduk lokal.

Para penyebar Islam asal Champa di Jawa pada abad ke-15 dan ke-16 Masehi membawa pengaruh pada kebiasaan dan tradisi keagamaan kepada masyarakat di Jawa dan tempat-tempat lain di Nusantara.

Pengaruh terbesar kehadiran para pengungsi Champa di Indonesia tampak pada terjadinya Asimilasi Budaya Champa ke dalam tradisi sosial keagamaan di Indonesia.

Seperti adat kebiasaan memperingati orang mati pada hari ketiga ke-7, ke-40, ke-100, ke-1000 yang tidak dikenal di masa Majapahit.

Juga adanya tradisi kenduri, mentalqin orang mati, tradisi rabu wekasan, dan Arba akhir, menguji kemuliaan ahlul bait adalah bagian dari tradisi keagamaan Champa yang dibawa ke Nusantara.

Baca Juga: Keturunan Rasulullah SAW Ke 24 Tumbangkan Majapahit, Ini Karomah Luar Biasa Sunan Kudus Wali Songo Saat di Medan Perang

Hal ini kemudian dikembangkan oleh masyarakat Jawa muslim menjadi tradisi keagamaan khas muslim seperti yang dipaparkan dalam Kebudayaan Jawa tentang tradisi keagamaan muslim Jawa.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Sumber: Atlas Wali Songo, Agus Sunyoto, Pustaka Iman, Jakarta, 2014

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X