SketsaNusantara.id - Dalam sejarah penyebaran Islam di Pulau Jawa, nama Wali Songo dikenal sebagai sembilan tokoh ulama yang memiliki pengaruh besar dalam proses dakwah pada masa lampau. Namun selain para wali tersebut, terdapat sejumlah tokoh ulama lain yang juga berjasa dalam mengembangkan ajaran Islam di berbagai daerah.
Salah satu sosok yang cukup dikenal di wilayah Jawa Tengah adalah Sunan Bayat. Meski namanya sering dikaitkan dengan Wali Songo, sebenarnya Sunan Bayat bukan termasuk dalam sembilan wali tersebut. Ia lebih dikenal sebagai ulama lokal sekaligus murid dari Sunan Kalijaga.
Dilansir SketsaNusantara.id dari laman Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Klaten, Sunan Bayat memiliki nama kecil Sayyid Hasan Nawawi atau Raden Kanji. Ia merupakan putra dari Sayyid Maulana Hamzah yang dikenal dengan sebutan Pangeran Tumapel Lamongan. Dari garis keturunan tersebut, Sunan Bayat masih memiliki hubungan dengan keluarga Sunan Ampel.
Nama Sunan Bayat sendiri diberikan oleh gurunya, Sunan Kalijaga. Julukan tersebut merujuk pada wilayah tempat ia kemudian berdakwah, yakni daerah Tembayat atau Bayat di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Dalam perjalanan hidupnya, Sunan Bayat juga memiliki kaitan erat dengan sejarah Kota Semarang. Ia merupakan menantu dari Ki Ageng Pandanaran, tokoh yang dikenal sebagai pendiri Kota Semarang.
Setelah Ki Ageng Pandanaran wafat, Sunan Bayat sempat menggantikan posisinya sebagai pemimpin wilayah Semarang pada abad ke-16. Karena itu, ia juga dikenal dengan gelar Sunan Pandanaran II.
Baca Juga: Kisah Sunan Ampel Ditikam Lembu Peteng saat Dakwah Damai Wali Songo di Tengah Cemooh dan Perlawanan
Namun perjalanan hidupnya tidak selalu berjalan mulus. Dalam sejumlah kisah, disebutkan bahwa setelah menjadi pemimpin, sifat Sunan Bayat sempat berubah menjadi lebih materialistis dan terlalu mencintai harta.
Perubahan tersebut akhirnya disadari setelah ia bertemu kembali dengan Sunan Kalijaga. Pertemuan dengan sang guru membuatnya tersadar hingga memutuskan meninggalkan jabatan sebagai pemimpin Semarang.
Kepemimpinan wilayah tersebut kemudian diserahkan kepada adik iparnya, Raden Mangkubumi. Setelah itu, Sunan Bayat memilih mengikuti Sunan Kalijaga untuk memperdalam ilmu agama dan menjalani kehidupan sebagai pendakwah.
Dalam perjalanan hijrahnya ke selatan, terdapat kisah menarik yang sering diceritakan masyarakat. Saat melintasi wilayah yang kini dikenal sebagai Salatiga, Sunan Bayat konon sempat dirampok oleh tiga orang.
Para perampok tersebut mencoba merebut tongkat milik Sunan Bayat yang mereka kira terbuat dari emas atau batu permata. Ketika mereka memaksa, Sunan Bayat disebut menyebut mereka sebagai “domba”.
Artikel Terkait
Pangeran Diponegoro Pernah Ketemu Sunan Kalijaga? Ada Ramalan Mencengangkan yang Diucapkan Anggota Wali Songo
Inilah Alasan Warga Kudus Tak Kurban Sapi dan Menggantinya dengan Kerbau, Ada Kaitannya dengan Salah Satu Wali Songo
3 Kesaktian Sunan Bonang Paling Legendaris hingga Bisa Membuat Banyak Orang Masuk Islam, Jadi Kisah Wali Songo yang Paling Diingat
Menyingkap Karomah Tersembunyi 3 Tokoh Wali Songo yang Terkenal Paling Sakti di Tanah Jawa, Salah Satunya Ada Hubungannya dengan Palestina
Jejak Nawa Dewata di Balik Konsep Wali Songo pada Era Majapahit, Penjaga Alam Semesta yang Melindungi Arah Mata Angin
Bukan Sekadar Dakwah, Inilah 8 Tugas Rahasia Wali Songo dalam Membangun Ulang Jawa Lama