Kamis, 4 Juni 2026

Bukan Wali Songo, Ini Kisah Sunan Bayat dan Legenda Karomahnya yang Mengutuk Perampok Menjadi Domba

Photo Author
Zuhana Anibuddin Zuhro, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 7 Maret 2026 | 16:00 WIB
Ilustrasi! Mengenal Sunan Bayat, ulama murid Sunan Kalijaga yang berperan menyebarkan Islam di Jawa Tengah (Tangkapan Layar YouTube Maos Sholawat.)
Ilustrasi! Mengenal Sunan Bayat, ulama murid Sunan Kalijaga yang berperan menyebarkan Islam di Jawa Tengah (Tangkapan Layar YouTube Maos Sholawat.)

SketsaNusantara.id - Dalam sejarah penyebaran Islam di Pulau Jawa, nama Wali Songo dikenal sebagai sembilan tokoh ulama yang memiliki pengaruh besar dalam proses dakwah pada masa lampau. Namun selain para wali tersebut, terdapat sejumlah tokoh ulama lain yang juga berjasa dalam mengembangkan ajaran Islam di berbagai daerah.

Salah satu sosok yang cukup dikenal di wilayah Jawa Tengah adalah Sunan Bayat. Meski namanya sering dikaitkan dengan Wali Songo, sebenarnya Sunan Bayat bukan termasuk dalam sembilan wali tersebut. Ia lebih dikenal sebagai ulama lokal sekaligus murid dari Sunan Kalijaga.

Dilansir SketsaNusantara.id dari laman Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Klaten, Sunan Bayat memiliki nama kecil Sayyid Hasan Nawawi atau Raden Kanji. Ia merupakan putra dari Sayyid Maulana Hamzah yang dikenal dengan sebutan Pangeran Tumapel Lamongan. Dari garis keturunan tersebut, Sunan Bayat masih memiliki hubungan dengan keluarga Sunan Ampel.

Baca Juga: Api Abadi Mrapen dan Jejak Gaib Sunan Kalijaga: Dari Tongkat Wali Songo hingga Menyala di Panggung Dunia Selama Puluhan Tahun

Nama Sunan Bayat sendiri diberikan oleh gurunya, Sunan Kalijaga. Julukan tersebut merujuk pada wilayah tempat ia kemudian berdakwah, yakni daerah Tembayat atau Bayat di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Dalam perjalanan hidupnya, Sunan Bayat juga memiliki kaitan erat dengan sejarah Kota Semarang. Ia merupakan menantu dari Ki Ageng Pandanaran, tokoh yang dikenal sebagai pendiri Kota Semarang.

Setelah Ki Ageng Pandanaran wafat, Sunan Bayat sempat menggantikan posisinya sebagai pemimpin wilayah Semarang pada abad ke-16. Karena itu, ia juga dikenal dengan gelar Sunan Pandanaran II.

Baca Juga: Kisah Sunan Ampel Ditikam Lembu Peteng saat Dakwah Damai Wali Songo di Tengah Cemooh dan Perlawanan

Namun perjalanan hidupnya tidak selalu berjalan mulus. Dalam sejumlah kisah, disebutkan bahwa setelah menjadi pemimpin, sifat Sunan Bayat sempat berubah menjadi lebih materialistis dan terlalu mencintai harta.

Perubahan tersebut akhirnya disadari setelah ia bertemu kembali dengan Sunan Kalijaga. Pertemuan dengan sang guru membuatnya tersadar hingga memutuskan meninggalkan jabatan sebagai pemimpin Semarang.

Kepemimpinan wilayah tersebut kemudian diserahkan kepada adik iparnya, Raden Mangkubumi. Setelah itu, Sunan Bayat memilih mengikuti Sunan Kalijaga untuk memperdalam ilmu agama dan menjalani kehidupan sebagai pendakwah.

Baca Juga: Tersembunyi di Belantara, Tempat Ibadah di Wonogiri ini Disebut sebagai Rintisan Masjid Demak Peninggalan Wali Songo

Dalam perjalanan hijrahnya ke selatan, terdapat kisah menarik yang sering diceritakan masyarakat. Saat melintasi wilayah yang kini dikenal sebagai Salatiga, Sunan Bayat konon sempat dirampok oleh tiga orang.

Para perampok tersebut mencoba merebut tongkat milik Sunan Bayat yang mereka kira terbuat dari emas atau batu permata. Ketika mereka memaksa, Sunan Bayat disebut menyebut mereka sebagai “domba”.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X