Di media sosial, seseorang mudah terpapar konten sia-sia, debat kasar, hingga materi yang mengandung maksiat. Semua itu berpotensi merusak pahala puasa.
Dalam Hasyiyah al-Sindi Sunan Ibnu Majah dijelaskan, puasa yang sah secara hukum belum tentu diterima secara pahala. Amal perbuatan menjadi penentunya.
Scrolling seharian tanpa kendali juga berdampak pada kedisiplinan ibadah. Banyak orang menunda salat atau melupakan tadarus karena asyik menatap layar.
Padahal, Ramadhan merupakan momentum memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, serta meningkatkan kualitas ibadah. Pengelolaan waktu menjadi kunci utama.
Media sosial sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan kebaikan. Konten edukatif, dakwah, dan ilmu dapat memperkaya makna puasa.
Sebaliknya, konsumsi konten hiburan berlebihan berisiko menurunkan kualitas spiritual. Puasa pun kehilangan ruhnya secara perlahan.
Dengan manajemen waktu yang tepat, scrolling dapat dijadikan selingan singkat. Namun, posisinya tidak boleh menggeser aktivitas ibadah utama.
Puasa yang berkualitas menuntut keseimbangan antara kebutuhan hiburan dan tuntutan spiritual. Kendali diri menjadi fondasi penting.
Dengan demikian, scrolling TikTok dan Instagram saat puasa tetap sah. Namun, pengendalian diri menentukan apakah puasa bernilai penuh atau sekadar formalitas.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Jangan Asal Nyemplung! Ini Hukum Berenang saat Puasa Ramadhan, Lengkap dengan Dalil dan Pendapat Ulama
Sering Mandi saat Puasa, Bolehkah dan Apakah Berpahala? Ini Penjelasan Lengkap Ulama agar Puasa Tetap Sah dan Aman
Bolehkah Menyikat Gigi Siang Hari Saat Puasa? Inilah Jawaban Buya Yahya
5 Poster Tema Ramadhan 1447 Hijriah Cocok untuk Jadwal Aktivitas Selama Puasa, Edit dan Download Gratis
Gus Miftah Kembali Berdakwah di Klub Malam, Gelar Tausiah dan Buka Puasa Bersama Pekerja 1001 Hotel Jakarta