Minggu, 19 Juli 2026

Niat Puasa Ramadhan di Siang Hari, Apakah Masih Sah? Ini Jawaban Tegas Ulama NU yang Wajib Dipahami Umat Islam

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Minggu, 8 Februari 2026 | 20:30 WIB
Ilustrasi, hukum bagi orang yang lupa puasa Ramadhan. (Pexels/Anna Tarazevich)
Ilustrasi, hukum bagi orang yang lupa puasa Ramadhan. (Pexels/Anna Tarazevich)

SketsaNusantara.id - Menjelang bulan Ramadhan, pertanyaan seputar niat puasa kerap muncul di tengah masyarakat. Salah satu yang paling sering ditanyakan adalah soal lupa niat puasa di malam hari.

Kondisi tersebut bisa dialami siapa saja, terutama saat kelelahan atau tertidur lebih awal.

Kegelisahan itu wajar. Sebab, niat menjadi penentu sah tidaknya sebuah ibadah. Dalam puasa Ramadhan, niat memiliki posisi yang sangat krusial. Kesalahan kecil di tahap ini bisa menimbulkan kebingungan berkepanjangan.

Baca Juga: Bagaimana Bacaan Doa Berbuka Puasa Ramadhan? Simak Tulisan Arab, Latin, serta Terjemahannya!

Lupa merupakan hal yang wajar, tetapi pasti ada aturan hukum Islam yang bisa menjawab keresahan umat Islam yang mengalaminya.

Nah, berikut ini adalah penjelasan yang dilansir dari nu.or.id.

Dalam Islam, niat menjadi fondasi utama setiap amal. Rasulullah SAW menegaskan bahwa nilai amal bergantung pada niat. Karena itu, ulama sepakat menempatkan niat sebagai rukun ibadah, termasuk dalam puasa.

Baca Juga: Ngaku Puasa tapi Tinggalin Sholat, Apakah Puasanya Tetap Sah? Begini Penjelasan dari Muhammadiyah

Khusus puasa wajib seperti Ramadan, qadha, dan nadzar, niat disyaratkan dilakukan di malam hari. Ketentuan ini menjadi pendapat mayoritas ulama, terutama dalam madzhab Syafi’i yang dianut luas di Indonesia.

Syekh Sulaiman Al-Bujairimi dalam Hasyiyatul Iqna’ menjelaskan, niat puasa wajib harus dilakukan sebelum fajar. Ia merujuk pada hadits Rasulullah SAW, “Siapa yang tidak memalamkan niat sebelum fajar, maka tiada puasa baginya.”

Berdasarkan pandangan tersebut, puasa Ramadhan tanpa niat di malam hari dinilai tidak sah menurut madzhab Syafi’i. Pasalnya, keabsahan puasa sangat bergantung pada niat yang dilakukan pada waktu yang ditentukan.

Namun, perbedaan pendapat muncul di kalangan ulama. Madzhab Hanafi membolehkan niat dilakukan di siang hari, baik untuk puasa wajib maupun sunah. Meski begitu, puasa dianggap kurang sempurna jika niat tidak dilakukan sejak malam.

Syekh Sulaiman Al-Bujairimi mencatat perbedaan ini dalam Hasyiyatul Iqna’. Ia menyebut bahwa madzhab Syafi’i menilai puasa tanpa niat malam hari tidak sah, sementara Hanafiyah memandangnya sah tetapi tidak sempurna.

Dalam praktiknya, seseorang yang lupa niat di malam hari dianjurkan segera berniat ketika ingat di siang hari. Puasa tetap diteruskan sebagai bentuk kehati-hatian dalam beribadah.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: nu.or.id

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X