Minggu, 19 Juli 2026

Gus Baha Beberkan Nasihat Menyambut Ramadhan: 'Di Antara Ijazah Mbah Maimoen Zubair, Guru Kami'

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Rabu, 21 Januari 2026 | 05:00 WIB
Gus Baha menyampaikan nasihat penting untuk menyambut bulan Puasa Ramadhan 1447 H. (Kolase Pexels/Rushdi Fatani/Instagram/gusbahaofficial)
Gus Baha menyampaikan nasihat penting untuk menyambut bulan Puasa Ramadhan 1447 H. (Kolase Pexels/Rushdi Fatani/Instagram/gusbahaofficial)

SketsaNusantara.id - Menjelang bulan suci Ramadhan, pembahasan tentang niat dan cara memaknai puasa kembali mengemuka. Banyak umat Islam mencari rujukan agar ibadah dijalani dengan pemahaman yang tepat.

Dalam sejumlah ceramahnya, Gus Baha kerap mengulas pandangan ulama terdahulu terkait puasa. Penjelasan tersebut merujuk pada tradisi keilmuan yang diwariskan secara berkelanjutan.

Salah satu nasihat tersebut disampaikan Gus Baha melalui potongan ceramah yang beredar di media sosial.

Baca Juga: Gus Baha Menjawab! Mana yang Lebih Utama, Berkurban 1 Kambing 1 Orang Atau 1 Sapi Untuk 7 Orang?

Materi itu menekankan pentingnya meneladani cara pandang orang-orang terdahulu.

Gus Baha menjelaskan bahwa pemahaman tentang niat puasa tidak bisa dilepaskan dari warisan para ulama. Ia menyebut ijazah yang diterima dari para guru sebagai rujukan utama.

“Supaya tahu caranya niatnya orang-orang dahulu ketika puasa atau cara pandang orang terdahulu tentang puasa, di antara ijazah Mbah Maimoen Zubair, guru kami, juga ijazah bapak itu, saya masih ingat,” kata Gus Baha, dikutip SketsaNusantara.id dari unggahan video shorts Youtube akun @GPDCorpSanggau.

Baca Juga: Bandingkan Habib dengan Gus Baha hingga Kyai Afifuddin Situbondo, Kyai Said Aqil Siroj: Tidak Ada Satupun Keturunan Yaman yang Memiliki Kemampuan...

Dalam penjelasannya, Gus Baha kemudian menyebutkan ayat Surat Al Fatihah. Ayat tersebut menjadi dasar doa yang terus dibaca dalam setiap salat.

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ
Bimbinglah kami ke jalan yang lurus,


صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَࣖ
(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat.

Menurut Gus Baha, ayat tersebut mengandung permohonan agar manusia diarahkan pada jalan orang-orang yang telah diberi nikmat. Jalan tersebut merujuk pada teladan generasi sebelumnya.

Ia menjelaskan bahwa kesalehan tidak berdiri sendiri tanpa rujukan. Pemahaman agama dibangun melalui kesinambungan ilmu dari para pendahulu.

“Jadi, kita tidak bisa soleh tanpa meniru orang terdahulu, kita tidak bisa baik tanpa meniru orang terdahulu,” ujar Gus Baha.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: Youtube @GPDCorpSanggau

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X