Usaha ini juga perlu mengantongi izin dari pemerintah setempat agar bisa terus beroperasi dengan aman.
"Usaha ini juga perlu dapat izin dari pemerintah setempat, sama Dinas Perhubungan (DISHUB)," kata Pak Jie.
Perahu tambangan bukan hanya sekadar alat transportasi, tetapi juga bagian dari sejarah dan budaya masyarakat setempat.
Bagi mereka yang tumbuh besar di sekitar Sungai Brantas, perahu tambangan adalah simbol konektivitas yang telah menghubungkan berbagai generasi.
Meski tantangan semakin besar dengan munculnya moda transportasi modern, perahu tambangan tetap bertahan karena keberadaannya masih relevan bagi warga yang mengutamakan efisiensi waktu dan biaya.
Selain itu, ada nilai sentimental yang melekat pada moda transportasi ini, sebuah warisan yang terus mengarungi waktu, menyusuri sungai, dan menghubungkan cerita-cerita kehidupan di sepanjang alirannya.
Di tengah gemuruh modernisasi, perahu tambangan Ploso tetap menjadi saksi bisu perjalanan waktu.
Baca Juga: Tertangkap Saat Curi Motor Milik Petani, Maling Motor di Jember Dimassa Warga
Selama masih ada warga yang setia menggunakan jasa ini, dan selama masih ada sosok seperti Pak Jie yang gigih mengemudikannya, maka perahu tambangan akan terus mengarungi arus Sungai Brantas, menjaga tradisi di tengah derasnya perubahan zaman.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini