SketsaNusantara.id -Tradisi rokat, sebuah ritual syukuran yang lekat dengan masyarakat Jember, menjadi sorotan dalam sarasehan bertajuk Merokat Kenangan yang digelar Yayasan Studi Arsip Sudut Kalisat.
Kegiatan ini bukan sekadar pengingat akan nilai-nilai tradisi, melainkan juga ruang untuk melestarikan kebudayaan lokal yang sarat makna.
Rokat dalam budaya Madura atau ruwat dalam budaya Jawa, memiliki tujuan utama sebagai wujud rasa syukur atas nikmat dan berkah yang diterima. Juga dipercaya untuk mencegah dari malapetaka.
Lebih dari itu, tradisi ini menjadi perekat silaturahmi antar warga, menciptakan harmoni di tengah masyarakat yang multikultural.
Dalam konteks budaya Jember, tradisi rokat hadir dengan beragam bentuk dan cerita, mencerminkan kekayaan nilai lokal yang terus hidup di tengah arus modernisasi.
Merokat Kenangan mengusung tema yang lebih dari sekadar ritual. Sebuah forum sarasehan untuk mengenal lebih dekat tradisi rokat di Kawasan Jember digelar pada Sabtu 25 Januari di Ruang Ingatan, Kampung Lorstkal Kecamatan Kalisat.
"Pada dasarnya kami ingin belajar banyak hal, terutama tentang tradisi rokat, manuskrip dan semua hal tentang kampung halaman kami. Mengingat kami sekarang memfokuskan diri pada kearsipan, ini merupakan hal penting yang harus kita pelajari," jelas Muhammad Iqbal selaku Direktur Program Yayasan Studi Arsip Sudut Kalisat.
Hadir dalam sarasehan tersebut empat pembicara yang telah menarasikan tradisi rokat dalam berbagai sudut pandang.
Jergian Jordi, selaku praktisi manuskrip dari Komunitas Kulit Pohon memberikan materi tentang tradisi rokat dan hubungannya dengan manuskrip nusantara.
Cak Sid dari Sanggar Umah Wetan Biting hadir sebagai pelaku rokat yang memberikan paparan mendalam tentang tradisi rokat dan beberapa penerapannya di berbagai wilayah.
Melihat rokat lebih jauh dari perspektif arkeologi disampaikan oleh Imam Jazuli selaku Jupel Disparbud Jember. Dalam hal ini Imam menarik rokat melalui Prasasti Kranjingan 2 yang ditemukannya 2022 lalu.