Dalam konteks kenaikan PPN di Indonesia, ajakan frugal living menjadi bentuk perlawanan terhadap kebijakan yang dianggap membebani masyarakat.
Baca Juga: Berhenti Nambang, Kini Rasman dan KTH Pabangbon Jadi Pahlawan Hutan Bersama BRI Grow and Green
Dengan mengurangi konsumsi, masyarakat berharap dapat mengurangi dampak kenaikan harga barang dan jasa akibat naiknya tarif PPN.
Lantas, apa saja dampak penerapan frugal living bagi masyarakat Indonesia? Dihimpun SketsaNusantara.id dari berbagai sumber, ternyata ada 6 dampak positif yang dirasakan masyarakat jika menerapkan frugall living.
1. Arus Keuangan Lebih Stabil
Jika banyak masyarakat mempraktikkan frugal living, daya beli konsumen akan menurun. Hal ini bisa mempengaruhi penjualan barang dan jasa, terutama pada sektor non-esensial seperti elektronik, kendaraan, dan fesyen.
Namun, arus keuangan lebih stabil jika menerapkan frugal living karena dapat menghemat pengeluaran dan menghindari utang akibat membeli barang yang tidak sesuai kebutuhan.
2. Mempengaruhi Ekonomi Nasional tapi Berdampak Positif Bagi Pedagang Kecil
Penurunan konsumsi masyarakat dapat berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi. Sektor ritel, yang merupakan salah satu penggerak utama ekonomi, berisiko mengalami kontraksi.
Akademisi dan Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies, Bima Yudhistira menilai aksi boikot PPN 12% dengan penerapan frugal living akan merugikan pemerintah karena memicu masyarakat mencari barang dengan harga lebih murah.
Namun, tindakan frugal living akan mendorong underground ekonomi karena masyarakat akan membeli kebutuhan di toko-toko kelontong untuk mendapat harga lebih murah sehingga para pedagang kecil akan merasakan dampak positifnya karena dagangan mereka laris manis di pasaran.
3. Peningkatan Kesadaran Finansial untuk Rencana Masa Depan
Ajakan frugal living juga memunculkan dampak positif untuk dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan keuangan.