Kamis, 4 Juni 2026

Muncul Seruan Frugal Living Menghadapi Rencana Pemerintah Naikkan PPN 12 Persen, Ini 5 Dampak Positifnya bagi Masyarakat Indonesia

Photo Author
Mila Zhely Nurul Hidayah, Sketsa Nusantara
- Selasa, 19 November 2024 | 15:30 WIB
Ilustrasi penetapan frugal living menghadapi rencana kenaikan PPN menjadi 12 persen dengan gaya hidup hemat dan berbelanja sesuai kebutuhan (Pexels/Siswoyo Ari Wijaya)
Ilustrasi penetapan frugal living menghadapi rencana kenaikan PPN menjadi 12 persen dengan gaya hidup hemat dan berbelanja sesuai kebutuhan (Pexels/Siswoyo Ari Wijaya)

SketsaNusantara.id - Wacana kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12% yang akan diterapkan mulai tahun 2025 mendatang, memicu reaksi beragam dari masyarakat Indonesia.

Di tengah kondisi perekonomian yang masih sulit, sebagian masyarakat menyerukan aksi "boikot pemerintah" dengan menerapkan gaya hidup hemat atau frugal living, termasuk mengurangi belanja.

Seruan ini ramai diperbincangkan di media sosial, terutama di platform X (sebelumnya Twitter) sejak Kementerian Keuangan atau Kemenkeu RI, Sri Mulyani membicarakan soal perumusan PPN 12% pada rapat bersama DPR pada hari Kamis, 14 November 2024 lalu. 

Baca Juga: Apa Itu Frugal Living? Istilah Viral Usai Rencana Pemerintah Naikkan PPN 12 Persen, Ternyata Gaya Hidup yang…

Salah satu warganet menyerukan gaya hidup hemat pada unggahan yang meminta untuk menahan membeli barang-barang yang tidak penting dan sesuai dengan kebutuhan atau prioritas.

"Yang pengen ganti HP tahan, yang pengen ganti motor baru tahan dulu, yang pengen ganti mobil baru tahan dulu semuanya. Cuma 1 tahun aja, jangan lupa pake semua subsidi, gak usah gengsi dibilang miskin, itu dari duit kita juga kok. Kapan lagi boikot pemerintah sendiri," tulis akun X @malesbangunaja yang diunggah pada hari Kamis, 14 November 2024.

Unggahan tersebut mendapat sambutan positif dari masyarakat. Salah satunya akademisi dan mantan Staf Kepresidenan, Yanuar Nugroho yang menyebut frugal living sebagai salah satu cara mengurangi konsumsi masyarakat yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Baca Juga: Hadiri Forum Bisnis di Brazil, Prabowo Angkat Isu Ketahanan Pangan

"Ajakan untuk hidup hemat, menahan diri dengan frugal living sekaligus bisa mengingatkan pemerintah akan dampak kebijakannya sendiri karena pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat dipengaruhi oleh tingkat konsumsi masyarakat," komentar Yanuar dikutip SketsaNusantara.id dari cuitan akun X @yanuarnugroho.

Ajakan ini menggambarkan bentuk protes masyarakat terhadap kebijakan yang dianggap memberatkan, terutama bagi kalangan menengah ke bawah. 

Mengutip dari laman resmi Kemenkeu RI, frugal living adalah gaya hidup yang menekankan pengelolaan keuangan secara cermat dan hemat.

Baca Juga: PAFI Timor Tengah Utara: Membangun Kesadaran Kesehatan Melalui Edukasi dan Aksi Nyata

Prinsip ini mengedepankan pengurangan pengeluaran yang tidak perlu serta memprioritaskan membeli barang-barang sesuai kebutuhan dibandingkan keinginan agar bisa menabung lebih banyak.

Menerapkan frugal living bahkan dianggap pelit, padahal tindakan ini justru dinilai bijak dalam menggunakan uang untuk mencapai tujuan keuangan di masa depan. 

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Sumber: X @yanuarnugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X