Sebutan “mafia” ini disematkan pada sekelompok orang tersebut lantaran pemikiran mereka dianggap sebagai bagian dari rencana CIA untuk membuat Indonesia sebagai boneka Amerika oleh seorang penulis muda Amerika Serikat.
Pencetus pertama sebutan Mafia Berkeley ini ialah aktivis-penulis 'kiri' AS, David Ransom
Disebutkan bahwa pada masa itu, Ransom menghubungkan Mafia Berkeley dengan proyek AS (terutama CIA) untuk beberapa tujuan.
Diantaranya yaitu menggulingkan Soekarno, melenyapkan pengaruh komunis di Indonesia, mendudukan Soeharto di kekuasaan untuk menjalankan kebijakan politik dan ekonomi yang berorientasi pada Barat, hingga mengaitkan Widjojo dkk. dengan pembantaian massal eks PKI pada akhir tahun 1960an.
Kaitan Mafia Berkeley dengan Emil Salim
Sebagian besar anggota dari Mafia Berkeley ini ialah menteri-menteri lulusan doktor atau master dari University of California at Berkeley pada tahun 1960-an yang mendapat bantuan Ford Foundation.
Selain itu, Mafia Berkeley juga memiliki pemimpin yang tidak resmi, yaitu Soemitro Djojohadikoesoemo dan Widjojo Nitisastro.
Keduanya sering dianggap sebagai pemimpin Mafia Berkeley dan arsitek utama perekonomian Orde Baru.
Sementara anggota lain yang tergabung dalam Mafia Berkeley ini ialah Emil Salim, Mohammad Sadli, Ali Wardhana, dan J.B. Soemarlin.
Bukan hanya itu saja, Dorodjatun Koentjoro-Jakti yang juga merupakan lulusan Berkeley terkadang juga dimasukkan dalam anggota.
Kontroversi Mafia Berkeley
Para ekonom yang telah ditunjuk, diantaranya Emil Salim, bertugas untuk mempromosikan reformasi pasar bebas, deregulasi, dan kebijakan ekonomi pro-investasi asing. Mereka memegang posisi penting dalam pemerintahan, seperti menteri ekonomi, keuangan, dan perencanaan pembangunan.
Meskipun mereka berhasil menstabilkan ekonomi Indonesia dan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang signifikan, jaringan "Mafia Berkeley" juga tidak lepas dari kritik dan kontroversi, diantaranya adalah: