Namun, perjalanan Orde Baru juga diwarnai berbagai kritik. Banyak akademisi dan pengamat politik menilai sistem pemerintahan saat itu memiliki karakter otoriter karena kekuasaan yang sangat terpusat pada presiden.
Kehidupan politik berlangsung dalam pengawasan ketat negara. Ruang gerak oposisi politik terbatas, sementara media massa dan organisasi masyarakat berada di bawah berbagai bentuk kontrol pemerintah.
Pemilu tetap diselenggarakan secara berkala selama Orde Baru. Meski demikian, sejumlah penelitian politik menilai kompetisi politik pada masa itu tidak berlangsung secara setara karena dominasi kekuatan politik yang didukung pemerintah.
Selain isu demokrasi, berbagai organisasi hak asasi manusia juga menyoroti sejumlah peristiwa yang terjadi selama masa pemerintahan Soeharto. Beberapa di antaranya masih menjadi bagian dari pembahasan sejarah Indonesia hingga saat ini.
Setelah memimpin selama lebih dari tiga dekade, posisi Soeharto mulai terguncang ketika krisis ekonomi Asia melanda Indonesia pada 1997. Krisis tersebut memicu tekanan ekonomi, sosial, dan politik yang semakin besar.
Gelombang demonstrasi mahasiswa kemudian terjadi di berbagai daerah. Situasi tersebut berujung pada pengunduran diri Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia pada 21 Mei 1998.
Soeharto meninggal dunia di Jakarta pada 27 Januari 2008 dalam usia 86 tahun. Meski telah wafat, namanya tetap menjadi salah satu figur paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia modern.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!