SketsaNusantara.id – Pemerintah Kabupaten Jember memilih cara berbeda dalam merayakan Idul Fitri tahun ini.
Bertempat di Pendopo Wahyawibawagraha pada Rabu 25 Maret 2026, Bupati Jember Gus Fawait, memimpin langsung gelaran tradisi Kupatan bersama warga sebagai pengganti agenda open house.
Langkah ini diambil Pemkab Jember guna menyelaraskan kebijakan daerah dengan instruksi pemerintah pusat yang meniadakan kegiatan gelar griya (open house).
Baca Juga: Gubernur Jatim Terapkan WFH Tiap Rabu Mulai April 2026, Khofifah Klaim Jadi Solusi Efisiensi BBM
Meski demikian, Gus Fawait menegaskan bahwa esensi kemenangan hari raya tetap terjaga melalui kearifan lokal yang lebih menyentuh akar rumput.
Gus Fawait menekankan bahwa, Idul Fitri memiliki dua dimensi penyucian. Jika puasa Ramadan selama sebulan penuh berfungsi menghapus dosa kepada Sang Pencipta, tradisi Kupatan menjadi jembatan untuk menggugurkan kesalahan antar sesama manusia.
"Dimensi spiritual dari Ramadan menyelesaikan urusan kita dengan Allah, namun urusan dengan sesama hanya bisa tuntas melalui kerelaan untuk saling memaafkan. Di sinilah tradisi Kupatan mengambil peran sentral," ujar Gus Fawait.
Bupati Jember juga menyoroti bahwa budaya seperti halal bihalal dan ngelencer (silaturahmi ke rumah kerabat) adalah warisan adiluhur para ulama Nusantara.
Menurut dia, tradisi ini merupakan kekayaan sosiokultural khas Indonesia yang mampu menciptakan harmoni sosial yang kuat dan tidak dimiliki oleh bangsa lain.
“Selain sebagai ajang mempererat persaudaraan, kegiatan ini juga diisi dengan doa bersama untuk para leluhur,” imbuhnya.
Gus Fawait mengajak masyarakat memanfaatkan momentum hati yang bersih pasca Ramadan, untuk memohon keberkahan bagi kemajuan daerah dan bangsa.
Melalui kegiatan ini, Pemkab Jember berharap nilai kesucian Idul Fitri dapat terimplementasi dalam aksi nyata berupa kerukunan dan saling menghormati di tengah kehidupan bermasyarakat.***