news

BMKG Ingatkan Kemarau 2026 Datang Lebih Cepat, Puncaknya Diprediksi Agustus

Senin, 9 Maret 2026 | 15:23 WIB
Potret kekeringan. (Freepik/Andreson)

SketsaNusantara.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menerbitkan peringatan dini terkait siklus iklim tahun ini, Senin 9 Maret 2026.

Berdasar analisis terbaru, sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi akan memasuki musim kemarau pada 2026 lebih awal dari rata-rata biasanya. Fenomena ini dipicu oleh berakhirnya fase La Niña pada Februari lalu, yang kini telah bergeser ke kondisi Netral.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengungkapkan bahwa indeks ENSO saat ini berada pada angka -0,28 dan diperkirakan tetap stabil hingga Juni 2026.

Baca Juga: BMKG Prediksi Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Puncaknya Agustus dan Cenderung Lebih Kering

Namun, masyarakat diminta tetap waspada karena terdapat peluang sebesar 50-60% munculnya fenomena El Niño kategori Lemah-Moderat pada semester kedua tahun ini.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, merinci bahwa transisi musim ini ditandai dengan beralihnya Angin Baratan (Monsun Asia) menjadi Angin Timuran (Monsun Australia).

“Tercatat, sebanyak 114 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 16,3 persen wilayah Indonesia mulai memasuki kemarau pada April 2026, meliputi pesisir utara Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, NTT, serta sebagian kecil Kalimantan dan Sulawesi,” ujarnya.

Baca Juga: Penjelasan BMKG Terkait Gempa 6,4 SR yang Mengguncang Pacitan: Termasuk Megathrust Jawa dan Tidak Berpotensi Tsunami hingga Terjadinya Gempa Susulan

Lalu, sebanyak 184 ZOM (26,3%) menyusul pada bulan Mei, dan 163 ZOM (23,3%) pada Juni. Secara nasional, puncak musim kering diperkirakan jatuh pada Agustus 2026, mencakup 429 ZOM (61,4 persen wilayah).

Menariknya, kemarau tahun ini diprediksi akan terasa lebih kering dari biasanya. Sebanyak 451 ZOM (64,5 persen) akan mengalami curah hujan di bawah normal.

“Hanya sebagian kecil wilayah di Gorontalo dan Sulawesi Tenggara yang berpotensi mengalami musim kemarau yang lebih basah (di atas normal),” imbuhnya.

Baca Juga: Pasca Kapal Wisata KM Putri Sakinah Tenggelam, BMKG Kembali Ingatkan Publik Peringatan Gelombang Tinggi di Labuan Bajo

Menghadapi risiko kekeringan ini, BMKG menekankan pentingnya langkah antisipasi (early action) dari pemerintah pusat, daerah, hingga masyarakat luas.

“Pada Sektor Pertanian, petani diimbau menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas tanaman yang hemat air, tahan kekeringan, serta memiliki siklus panen yang lebih singkat,” ungkapnya.

Halaman:

Tags

Terkini