news

BMKG Prediksi Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Puncaknya Agustus dan Cenderung Lebih Kering

Rabu, 4 Maret 2026 | 19:15 WIB
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani saat memaparkan prakiraan awal musim kemarau 2026 dalam konferensi pers di Jakarta. (X/infoBMKG)

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, merinci bahwa 184 ZOM (26,3%) akan menyusul memasuki musim kemarau pada Mei 2026, dan 163 ZOM (23,3%) pada Juni 2026.

Berdasarkan analisis tersebut, ia menegaskan bahwa 325 ZOM (46,5%) diprediksi mengalami awal kemarau lebih maju dari biasanya.

“Awal kemarau di 325 ZOM (46,5%) diprediksi MAJU atau terjadi lebih cepat dari biasanya, SAMA 173 ZOM (24,7%), dan MUNDUR 72 ZOM (10,3%),” ungkap Ardhasena.

Wilayah yang diperkirakan mengalami awal kemarau lebih cepat meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian wilayah Papua.

Terkait puncak musim kemarau, BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalaminya pada Agustus 2026, mencakup 429 ZOM atau sekitar 61,4% wilayah.

Selain itu, 12,6% wilayah diperkirakan mencapai puncak kemarau pada Juli dan 14,3% pada September.

Pada Juli, puncak kemarau diperkirakan terjadi di sebagian wilayah Sumatra, Kalimantan bagian tengah dan utara, serta sebagian kecil Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga Papua bagian barat.

Memasuki Agustus, kondisi kering akan meluas secara signifikan, mendominasi Sumatra bagian tengah dan selatan, Jawa Tengah hingga Jawa Timur, sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi, seluruh Bali dan Nusa Tenggara, serta sebagian Maluku dan Papua.

Sedangkan pada September, puncak kemarau masih akan dirasakan di sebagian Lampung, sebagian kecil Jawa, sebagian besar NTT, wilayah Sulawesi bagian utara dan timur, sebagian besar Maluku Utara, serta sebagian Papua.

Dari sisi sifat musim, BMKG memproyeksikan kemarau 2026 secara umum akan bersifat Bawah Normal atau lebih kering dari biasanya di 451 ZOM (64,5%), dan Normal di 245 ZOM (35,1%).

Hanya 3 ZOM (0,4%) di wilayah Gorontalo dan Sulawesi Tenggara yang diprediksi mengalami kemarau Atas Normal atau lebih basah.

“Dengan kondisi ini, durasi musim kemarau di 57,2% wilayah Indonesia diprediksi lebih panjang dari normalnya,” tambah Faisal.

BMKG juga menekankan pentingnya langkah antisipasi sejak dini guna meminimalkan dampak kekeringan.

Di sektor pertanian, petani diimbau menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas tanaman yang lebih hemat air, tahan kekeringan, serta memiliki siklus panen lebih singkat.

“Langkah ini harus dibarengi dengan penguatan sektor sumber daya air melalui revitalisasi waduk dan perbaikan jaringan distribusi demi menjamin ketersediaan air bersih bagi kebutuhan domestik maupun operasional PLTA di sektor energi,” ujar Faisal.

Halaman:

Tags

Terkini