SketsaNusantara.id - Tiyo Ardianto, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) Yogyakarta kembali jadi sorotan publik usai mengaku dapat teror hingga ancaman penculikan.
Teror tersebut didapatkannya setelah mengirim surat terbuka kepada UNICEF saat menyuarakan tragedi kematian seorang siswa SD di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang nekat mengakhiri hidup karena tidak mampu membeli buku dan alat tulis sekolah.
Kasus itu menjadi sorotan nasional dan memicu kritik keras terhadap kebijakan pemerintah, termasuk dari kalangan mahasiswa.
Dalam suratnya, Tiyo menyoroti tragedi memilukan bocah SD di NTT merupakan kegagalan negara dalam menjamin hak dasar anak atas pendidikan yang sudah tertulis dalam UUD 1945.
Ia meminta UNICEF memperkuat perlindungan anak serta menjamin anggaran pendidikan, agar kejadian serupa tak terulang kembali akibat kegagalan kebijakan pemerintah.
Surat yang dikirimkan ke UNICEF berisi kritik keras pada pemerintah dan sempat menuai pro kontra. Beberapa hari kemudian, Tiyo mengaku dapat teror hinga ancaman penculikan setelah mengirim surat tersebut.
Kejadian ini mencuri perhatian publik. Banyak yang memberikan dukungan termasuk dari pegiat media sosial yang vokal menyuarakan aspirasi dan mengkritik pemerintah.
Tak heran jika sosoknya seketika disorot dan banyak yang penasaran mengenai Tiyo Ardianto. Berikut profil Ketua BEM UGM sebagaimana dihimpun SketsaNusantara.id dari berbagai kanal resmi UGM dan berbagai sumber.
Tiyo Ardianto merupakan seorang mahasiswa Fakulras Filsafat angkatan tahun 2021 yang kini menjabat sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM KM UGM) 2025.
Organisasi tersebut selama ini dikenal aktif menyuarakan isu-isu sosial, pendidikan, dan kebijakan publik. Sebagai ketua, Tiyo menjadi wajah publik dari suara mahasiswa yang kritis terhadap berbagai kebijakan negara.
Tak banyak yang diketahui dari Tiyo Ardianto. Menilik dari akun Instagram pribadinya, Tiyo diketahui berasal dari Kudus, Jawa Tengah.
Menariknya, Tiyo bukan lulusan SMA Negeri atau swasta biasa, melainkan alumni dari Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Omah Dongeng Marwah yang berada di Kudus.