Minggu, 19 Juli 2026

Alarm Kritik! Ketua BEM UGM Diteror hingga Dapat Ancaman Penculikan Usai Kritik Pemerintah saat Suarakan Tragedi Bocah SD di NTT

Photo Author
Mila Zhely Nurul Hidayah, Sketsa Nusantara
- Jumat, 13 Februari 2026 | 16:00 WIB
Potret Ketua BEM UGM yang diteror hingga mengaku dapat ancaman penculikan usai kritik pemerintah saat suarakan tragedi bocah SD di NTT dalam surat yang dikirimkannya ke UNICEF (Instagram/tiyoardianto_)
Potret Ketua BEM UGM yang diteror hingga mengaku dapat ancaman penculikan usai kritik pemerintah saat suarakan tragedi bocah SD di NTT dalam surat yang dikirimkannya ke UNICEF (Instagram/tiyoardianto_)

SketsaNusantara.id - Badan Eksekutif Mahasiswa akui mendapatkan teror setelah melontarkan kritik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Kritik tersebut disampaikan melalui sebuah surat yang dikirimkan ke UNICEF ketika menyoroti tragedi siswa SD di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang nekat mengakhiri hidupnya karena tak bisa membeli buku dan pena untuk keperluan sekolah.

Dalam suratnya, Tiyo menyebut tragedi ini sebagai kegagalan negara dalam menjamin hak dasar anak atas pendidikan yang sudah diatur dalam UUD 1945.

Baca Juga: 5 Isi Surat BEM UGM ke UNICEF: Soroti Tragedi Bocah NTT sebagai Kegagalan Sistem, Kritik Kebijakan Pemerintah hingga Sindiran Pedas ke Presiden

Tiyo menilai komitmen tersebut belum sepenuhnya terwujud dalam kebijakan yang mampu menjangkau anak-anak dari keluarga miskin di daerah terpencil.

Ia juga menyinggung kebijakan pemerintah yang terkesan memprioritaskan program MBG (Makan Bergizi Gratis) ketimbang memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia.

"Akar penyebab dari tragedi ini adalah egoisme individu dan politik dari Presiden kita yang sombong, Prabowo Subianto. Bukannya memprioritaskan anggaran untuk memperbaiki kesetaraan dan keadilan sistemik, ia justru sengaja memotong anggaran pendidikan untuk kebijakan yang berbiaya tinggi, berisiko bencana, dan berpotensi keracunan makanan yang disebut Makan Bergizi Gratis," tulis Tiyo dalam suratnya.

Baca Juga: Tragedi Bocah SD di Ngada NTT Jadi Alarm Keras, Akademisi Unair Soroti Minimnya Perhatian pada Kesehatan Mental Anak

"Maka, malapetaka kegagalan negara ini tidak seharusnya menyebabkan keluarga dari pedesaan miskin menginternalisasi ketidakadilan struktural sebagai kesalahan diri sendiri, sementara Presiden kita yang tidak manusiawi mengeksploitasi kemiskinan sebagai pengaruh elektoral untuk pemilihan umum 2029," tandasnya.

Surat tersebut disampaikan secara terbuka dan diunggah di akun Instagram pribadinya pada tanggal 6 Februari 2026. Salah satu yang ramai jadi sorotan adalah kritik pedas untuk presiden.

Meski begitu, banyak warganet yang memberikan dukungan, meski tak sedikit yang mengkritik agar tragedi ini tidak dipolitisasi dan lebih fokus memberikan solusi konkret di masyarakat.

Baca Juga: Rieke Diah Pitaloka Soroti Kasus Siswa SD Kabupaten Ngada NTT yang Nekat Akhiri Hidup Karena Tak Bisa Beli Buku, Kritik Keras Kebobrokan Data Bansos

Namun, tak lama setelah mengirimkan surat bernada kritik untuk Presiden, Ketua BEM UGM mengaku mendapat pesan bernada ancaman dari aplikasi chat WhatsApp.

Teror tersebut berupa ancaman penculikan yang didapatnya lewat pesan misterius dari nomor tak dikenal. Isi pesannya menyebut Tiyo sebagai "agen asing" yang dinilai mencari panggung dengan menjual "narasi sampah".

Halaman:

Editor: Siti Nurlaela Hanifah

Sumber: Instagram @tiyoardianto_

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X