SketsaNusantara.id – Bupati Ngada, Nusantara Tenggara Timur akhirnya menanggapi terkait siswa SD yang mengakhiri hidup diduga karena tak bisa membeli buku dan pena.
Sebelumnya, Gubernur NTT Melkiades Laka Lena melontarkan pernyataan protes terhadap perangkat daerah karena dianggap telah gagal dengan tragedi tersebut.
Menjawab hal itu, Bupati Ngada Raymundus Bena mengatakan bahwa perwakilan Pemda sudah meninjau fakta di lapangan.
Ray menjelaskan bahwa ada beberapa fakta dilapangan yang menjelaskan bahwa ada beberapa fakta dibalik tragedi memilukan ini.
Jika sebelumnya terbentuk kesimpulan bahwa siswa 10 tahun tersebut mengakhiri hidup karena alasan tak mampu membeli alat tulis, Ray justru berpendapat berbeda.
"Kesimpulan saya berbeda ya, meninggal karena tidak punya bolpoin dan tidak punya buku saya agak lain menilainya," ungkap Raymundus Bena dikutip dari kanal YouTube KOMPASTV.
"Saya melihat ini sangat kompleks, saya melihat referensi ia mengakhiri hidup apakah karena buku? Itu kan terlalu dini menilai seperti itu," tegasnya lagi.
Menurut Bupati Ngada, terlalu dini bagi kita jika menilai langsung aksi mengakhiri hidup anak 10 tahun ini disebabkan hanya karena tak memiliki alat tulis.
"Dunia sekarang sangat terbuka, bisa karena nonton TV, nonton video atau seperti apa," imbuhnya.
Menurutnya, saat ini seseorang yang melakukan aksi mengakhiri hidup bisa karena banyak sebab karena saat ini menurutnya dunia begitu terbuka dan pengaruh bisa datang dari mana saja.
Lebih jauh Bupati Ngada membenarkan bahwa keluarga korban memang tak menerima bantuan sebab terkendala oleh perpindahan domisili.