Namun demikian, ibu korban sedang proses domisili agar ia bisa mendapatkan bantuan dan bisa mencairkan.
"Sudah di urus (domisili) dan satu lain hal dia tidak ke sekolah, tidak kembali ke pondok dan sekitar jam 9 ada lewat ditanya kenapa tak sekolah dan dia jawab kepalanya pusing," cerita Raymundus Bena.
Lalu pada jam 10 kemudian ada pengakuan lagi dari orang lain yang sempat menanyakan mengapa si korban tak sekolah dan lagi-lagi dijawab karena sakit kepala.
Hingga jam 11 kemudian ada lagi seseorang lewat dan menemukan si anak sudah dalam kondisi gantung diri dan meninggal dunia.
Dari keterangan beberapa masyarakat itulah, Raymundus menyimpulkan bahwa terlalu dini jika saat ini kemudian langsung menilai bahwa tragedi itu dipicu hanya karena tak memiliki alat tulis.
"Kemiskinan dari data statistik ada, berkaitan dengan masyarakat secara umum kalau untuk makan dan minum saya rasa tidak menjadi masalah, meski tak punya uang tapi stok makan dan minum masyarakat ada cukuplah," tegasnya.
Bupati Ngada tersebut menegaskan bahwa menurut data statistik, masyarakat miskin ada di Ngada namun dinilai tak kekurangan makan.
Terkait bantuan pendidikan, Raymundus menyampaikan bahwa didaerahnya tak mengandalkan bantuan PIP dari pemerintah pusat saja namun juga ada PIP daerah.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Kecelakaan Maut di Bandung, Pemotor Wanita Terlindas Truk Kontainer saat Pulang Kerja
Polisi Kediri Lakukan Terapi Energi Alam Gratis Tanpa Sentuhan, Aksi Aiptu Ony Kristiyan Ramai Dibicarakan Publik
Bedah Dokumen Tambang Emas Tumpang Pitu Banyuwangi, Peralihan IUP di Era Azwar Anas Jadi Perhatian Pegiat Anti Korupsi
Beri Kenyamanan Penumpang, Bandara Notohadinegoro Sediakan Angkutan Bus Gratis Menuju Jember Kota
Rumah Dua Lansia di Jember Terbakar Akibat Korsleting Listrik