SketsaNusantara.id - Pemulihan pascabencana di Sumatra dikejar waktu. Pemerintah menargetkan percepatan sebelum memasuki bulan Ramadan. Fokus diarahkan pada pemulihan fisik dan penguatan ekonomi warga terdampak.
Upaya itu disampaikan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dalam rapat koordinasi Satgas Pemulihan Bencana DPR bersama pemerintah. Rapat tersebut berlangsung Sabtu, 10 Januari 2026, dan disiarkan melalui kanal YouTube Parlemen TV.
Dalam forum itu, Tito menekankan pentingnya memanfaatkan waktu sebelum Ramadan.
Baca Juga: Usai Dikritik Keras Prabowo, Kini Mendagri Tito Karnavian Berhentikan Sementara Bupati Aceh Selatan
Ia menilai pekerjaan fisik akan jauh lebih berat jika dilakukan saat bulan puasa. Karena itu, percepatan dinilai menjadi keharusan.
“Mumpung sebelum Lebaran, saya ulangi, sebelum Ramadan, sebelum Ramadan, kalau Ramadan, capek nanti kerja fisik ini karena kerja fisik. Jadi harus digenjot di periode waktu ini,” kata Tito.
Untuk mengejar target tersebut, Tito meminta tambahan ribuan personel. Ia menyebut kebutuhan pasukan dalam jumlah besar agar percepatan bisa benar-benar terasa di lapangan. Permintaan itu disampaikan langsung kepada Kapolri.
Baca Juga: Tito Karnavian Luruskan soal Dana Mengendap, Ungkap Selisih Rp18 Triliun dengan Data Menkeu
Tito mengungkapkan kebutuhan setidaknya 5.000 personel tambahan. Penempatan pasukan akan disesuaikan dengan peta wilayah terdampak. Pemerintah masih memetakan daerah prioritas penugasan.
Selain Polri, Tito juga berkomunikasi dengan TNI Angkatan Darat. Ia meminta Kepala Staf Angkatan Darat menambah jumlah pasukan di wilayah bencana. Menurut Tito, jumlah kecil dinilai tidak efektif.
Permintaan tersebut disesuaikan dengan luas wilayah terdampak. Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara menjadi perhatian utama. Ketiga daerah itu mengalami banjir dan longsor sejak akhir November lalu.
Selain pemulihan fisik, Tito juga menekankan pemulihan ekonomi masyarakat. Pemerintah mendorong perbaikan dari sisi penjual dan pembeli. Daya beli warga dinilai menjadi kunci perputaran ekonomi.
Bantuan kepada masyarakat diarahkan untuk memperkuat konsumsi. Bantuan tunai dinilai dapat langsung menggerakkan aktivitas ekonomi lokal. Dengan begitu, roda ekonomi bisa kembali berputar.
“Nah, kalau mereka diberikan bantuan BLT, itu otomatis mereka punya daya beli. Dan ini akan terjadi putaran uang,” kata Tito.