news

Ramai True Crime Community, Densus 88 Paparkan Ciri Anak Terpapar Ekstremisme dan Sebaran Kasus di 19 Provinsi

Kamis, 8 Januari 2026 | 17:00 WIB
Ilustrasi teroris. (Pexels/MART PRODUCTION)

SketsaNusantara.id - Paparan paham ekstremisme pada anak kini muncul melalui ruang digital. Salah satu jalurnya terdeteksi dalam komunitas daring bertema kejahatan nyata.

Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri mengungkap pola tersebut melalui temuan lapangan. Paparan itu ditemukan pada anak-anak yang aktif dalam true crime community.

Fenomena tersebut disampaikan Densus 88 sebagai bagian dari upaya pencegahan dini. Penjelasan disampaikan kepada publik untuk meningkatkan kewaspadaan keluarga.

Baca Juga: Kisah Bocah SMP Asal Ambulu Jember yang Jadi Teroris dan Pandai Bikin Bom

Juru Bicara Densus 88 AT Polri Kombes Pol Mayndra Eka Wardhana menyebut ciri awal dapat dilihat dari barang pribadi anak. Ia menyoroti simbol tertentu yang sering muncul.

“Ini bisa jadi menjadi tokoh idola atau sosok yang ingin diikuti perilakunya,” kata Mayndra di Jakarta.

Selain simbol, anak juga menunjukkan perubahan pola pergaulan. Anak cenderung menarik diri dan lebih nyaman berlama-lama di komunitas tersebut.

Baca Juga: 386 WNI Terjebak di Iran saat Serangan Teroris Zionis Israel Meningkat, Pemerintah RI Siapkan Rencana Evakuasi Diam-Diam

Keterikatan pada komunitas membuat anak mengurangi interaksi sosial langsung. Waktu lebih banyak dihabiskan mengakses konten dan diskusi daring.

Densus 88 juga menemukan kecenderungan meniru tokoh dalam komunitas true crime. Peniruan dilakukan melalui gaya berpakaian hingga unggahan media sosial.

Mayndra menyebut peniruan itu pernah berujung tindakan nyata. Kasus serupa tercatat pada insiden yang melibatkan anak berhadapan dengan hukum.

“Ini sudah terbukti. Pernah terjadi insiden di SMAN 72 dan ABH (anak berhadapan hukum) yang melakukan tindakan tersebut, dari replika senjatanya, dari unggahannya, dari gaya berpakaiannya, bahkan aksi-aksinya, ini adalah cosplay pelaku-pelaku sebelumnya dari negara asalnya,” katanya.

Ciri lain yang diungkap adalah ketertarikan pada konten kekerasan ekstrem. Konten tersebut bersifat sadistis dan berulang kali dikonsumsi.

Densus 88 menilai konten tersebut tidak lazim dikonsumsi anak. Intensitas paparan menjadi indikator penting dalam proses asesmen.

Halaman:

Tags

Terkini