Pada masa pemerintahan Orde Baru, film ini selalu tayang menjelang 30 September di hampir seluruh stasiun televisi. Bahkan, penonton kerap menjadikannya tontonan wajib di sekolah maupun lingkungan masyarakat. Namun, pasca reformasi, kewajiban itu dihapus karena dianggap tidak sesuai dengan semangat kebebasan berekspresi dan dinamika politik baru.
5. Pencetak Rekor Penonton
Kesuksesan film ini juga tercermin dari jumlah penontonnya. Pada masa tayang perdana di Jakarta, film tersebut mampu meraih penonton lebih dari 669 ribu orang. Angka itu bahkan melampaui film populer lain, seperti Nyi Blorong, yang hanya meraih sekitar 345 ribu penonton pada periode yang sama.
6. Teknologi Produksi Unik
Selain biaya dan proses panjang, film ini menggunakan pita seluloid yang dikerjakan melalui proses khusus di Jepang. Teknologi tersebut pada saat itu belum banyak digunakan di Indonesia, sehingga menjadikan film ini salah satu yang paling modern dalam aspek teknis.
Film Pengkhianatan G30S PKI tidak hanya menjadi tontonan sejarah, melainkan juga warisan budaya yang sarat kontroversi. Bagi sebagian orang, film ini menjadi pengingat tragedi kelam bangsa, sementara bagi generasi baru, ia menjadi pintu masuk untuk memahami sejarah melalui medium sinema. Terlepas dari pro dan kontra, film ini tetap tercatat sebagai salah satu karya monumental dalam perjalanan perfilman Indonesia.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!