news

Bersenang-senang di Panggung Kampung ala Kalisat Tempo Dulu Bersama Orkes Silampukau dan Kisah dari Negeri Arkipelagia

Senin, 15 September 2025 | 18:57 WIB
Orkes Silampukau saat tampil di Panggung Rakyat dalam penutupan Kalisat Tempo Dulu ke-10: Lanskap Bercakap (Dok. SketsaNusantara.id/Siti Nurlaela)

“Kalau musiknya sendiri banyak yang bisa mengubah dunia. Bob Marley dengan musiknya bisa memerdekakan bangsanya dan banyak lagu-lagu yang membakar zaman,” imbuhnya lagi.

Meski jawaban Kharis sangat menarik untuk diperdebatkan, apalah daya saya harus mengalah dengan waktu, membiarkan pentolan vokalis Orkes Silampukau itu menyusul anggota lainnya yang sudah menunggu di dalam mobil.

Baca Juga: Mampir di Jember! Festival Film Santri Gelar Nobar dan Sosialisasi Bareng Para Santri di Sinema Kelontong Sudut Kalisat

Sambil menunggu Panggung Kampung dimulai pukul 19.00 WIB, saya duduk di stand merchandise sambil makan cilok yang dijual warga setempat di stand makanan yang berjajar di samping panggung.

Para penonton mulai berdatangan, memenuhi Lapangan Kampung Lorstskal yang bersebelahan dengan Stasiun Kalisat.

Lalu tiba-tiba Plup!

Kampung Lorstkal mendadak gelap, lampu sorot dari panggung yang menyala berkat genset, berputar-putar menertawakan.

Saya yang sedang khusyuk makan cilok kaget, mengira hal itu adalah bagian dari acara. Mungkin biar panggungnya makin terasa megah pikir saya.

Tapi saya salah. Hanna, istri Mas Hakim sekaligus teman kantor saya bilang kalau gardu listrik di depan SMA 10 Nopember terbakar.

“Gara-gara acara ini kah mbak?”

“Nggak, sudah biasa kok di sini. Sering terbakar,” Hanna menenangkan saya—yang bukan panita, yang khawatir kalau-kalau acara ini mengganggu kenyamanan warga.

Sepertinya ucapan Hanna benar, pasalnya, baik panitia maupun warga sekitar yang mulai menggelar alas duduk di sudut lapangan terlihat santai, tak terlalu panik menghadapi lampu rumah yang padam—seolah sudah terbiasa.

Baca Juga: Sudut Kalisat Hidupkan Sejarah Lokal Lewat Merokat Kenangan, Sebuah Upaya Untuk Mengenal dan Mencintai Kampung Halaman

Pukul 19.20 WIB, dua pria yang didapuk sebagai MC membuka acara, menyapa warga dan menyambut penampil pertama, Grey Castle dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember.

Saya tak terlalu memperhatikan 4 lagu yang dibawakan Grey Castle, masih sibuk menghilangkan rasa pedas dari cilok.

Halaman:

Tags

Terkini