SketsaNusantara.id - Minggu sore yang cerah di salah satu sudut Kampung Lorstskal sepertinya mewakili perasaan bahagia saya hari itu.
Untuk pertama kalinya saya bakal melihat langsung SILAMPUKAU dari jarak kurang dari 1 meter.
Duo Folks asal Surabaya yang kini tumbuh menjadi Orkes Silampukau—bersama Resha, Pras dan Arief—adalah musisi indie yang dikenal lewat lagu-lagunya yang sangat dekat dengan keseharian, khususnya warga Surabaya dan tentu saja saya pribadi.
Lagu Rantau dan Puan Kelana misalnya, lagu dari album perdana Eki-Kharis yang rilis tahun 2015 ini sering mewakili perasaan kangen rumah saat saya masih merantau.
Hembusan angin yang ramah dan hiruk pikuk panitia Kalisat Tempo Dulu mempersiapkan Panggung Kampung diselingin tawa anak-anak kecil yang saling berkejaran membuat kegiatan menunggu saya jadi menyenangkan.
Saya cukup takjub melihat panita Kalisat Tempo Dulu—acara tahunan komunitas Sudut Kalisat yang merekam dan mengenang masa lalu—yang saya rasa 90 persen masih berusia di bawah 30 tahun.
Mereka mempersiapkan serangkaian acara, mulai dari pameran, sinema kelontong dan ditutup dengan Panggung Kampung ‘Sejauh Ku Memandang’ tanggal 13-14 September 2025.
Termasuk juga program residensi bagi 22 seniman dari berbagai daerah dan negara di 10 perkebunan yang ada di Kabupaten Jember.
Apalagi tema Lanskap Bercakap pada Kalisat Tempo Dulu ke-10 ini menurut saya cukup menantang.
Baca Juga: Prosesi Restu Ibu: Merawat Ingatan Kolektif bersama Sudut Kalisat Melalui Festival Kampung Lorstkal
Akhirnya setelah menunggu hampir 2 jam, sesi diskusi yang menjadi rangkaian acara pada Panggung Kampung hari kedua itu dimulai.
Saat itulah saya bisa melihat Kharis and the gank dari jarak dekat, setidaknya cukup untuk membuat saya nervous.