Baca Juga: 3 Mahasiswa Baru UNEJ 2025 Termuda Seangkatan, Ada Murid Akselerasi dari Probolinggo dan Jember
Menurutnya, banyak pelaku seni dan kreatif di Probolinggo yang sebenarnya terus berusaha melahirkan karya dan kegiatan.
Namun, upaya itu tidak mendapatkan dukungan memadai. Pemerintah lebih sibuk mempercantik infrastruktur seperti alun-alun, sementara keberadaan gedung kesenian justru dialihkan untuk fungsi lain.
Dalam tulisannya, Adnan juga menegaskan bahwa kritik yang ia lontarkan lahir dari rasa cinta terhadap kota kelahirannya, bukan kebencian.
Sebagai lulusan S1 Desain Komunikasi Visual Universitas Negeri Malang dan pendiri Lohalo Studio Collective, Adnan memiliki kepekaan terhadap identitas visual dan makna simbolik di baliknya.
Melalui logo “darurat kesenian” ini, ia ingin mengingatkan masyarakat bahwa seni adalah denyut kehidupan kota, bukan sekadar hiburan tambahan.
Adnan berharap pemerintah daerah mulai membuka mata dan memberi ruang lebih luas bagi seniman maupun pekerja kreatif.
“Semoga ocehan ini bisa turut membuka pola pikir pemerintahan bahwa banyak loh seniman maupun pekerja kreatif dari Probolinggo yang harus disupport,” kata Adnan.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!