Selain itu, kondisi cuaca seperti debu, asap, atau polusi juga dapat memperkuat warna bulan, membuatnya tampak lebih merah atau oranye yang terlihat lebih hangat.
Proses ini sepenuhnya alami dan bergantung pada posisi bulan serta kondisi atmosfer di Bumi.
2. Fenomena Langka Purnama Merah
Menariknya, posisi Strawberry Moon yang terlihat tahun 2025 ini berada pada posisi lebih rendah dari tahun-tahun sebelumnya.
NASA menyebut Strawberry Moon tahun ini berada di posisi lebih rendah karena berada pada siklus major lunar Standstill dan merupakan fenomena langka yang terjadi setiap 18 tahun sekali.
Siklus ini terjadi karena kemiringan orbit bulan berubah-ubah secara perlahan karena terpengaruh tarikan gravitasi Matahari.
Strawberry Moon bisa dilihat saat fase bulan purnama di bulan Juni atau sekitar titik balik matahari musim panas (summer solstice) di belahan bumi utara.
Namun, intensitas warna merah atau oranye pada Strawberry Moon bisa bervariasi setiap tahun, tergantung pada kondisi atmosfer.
Purnama merah bisa muncul setiap tahun, namun pengalaman visualnya bisa sangat berbeda dari satu tahun ke tahun lainnya, membuatnya tetap menarik untuk diamati.
3. Mengapa Disebut Strawberry Moon?
Mengutip dari akun Instagram @astronomi_ina, nama "Strawberry Moon" tidak berkaitan dengan warna bulan.
Nama ini diambil berasal dari tradisi suku asli Amerika, khususnya suku Algonquin yang menandai datangnya musim panen stroberi.