SketsaNusantara.id - Di tengah gempuran teknologi dan arus modernisasi, sekelompok anak muda di Kecamatan Kalisat, Kabupaten Jember, justru memilih untuk menengok ke belakang. Melihat sejarah kampung halamannya.
Lewat kegiatan bertajuk Merokat Kenangan yang diselenggarakan pada 24 Mei 2025, Yayasan Studi Arsip Sudut Kalisat menghidupkan kembali babad-babad sejarah lokal yang hampir terlupakan.
Setelah sukses menggelar kajian Babad Biting tiga bulan lalu, kini mereka kembali menghadirkan kisah masa lalu: Babad Sumber Jeruk.
Dalam 1,5 jam narasi sejarah Desa Sumber Jeruk disajikan oleh Abdul Rasyid (Cak Cid) dari Sanggar Umah Wetan dalam macapat yang diiringi ketukan Gambang dengan nada yang ritmis dan dinamis.
Menghadirkan tokoh-tokoh legendaris seperti Trisnopati, Ki Udan Panas dan beberapa tokoh pengikut lainnya.
Cak Cid mencoba menghidupkan kembali sejarah desa, folklore Udan Panas, keselarasan dengan alam, kerukunan dan kedamaian melalui tembang dan peneges.
Dalam penghujung tembangnya, Cak Cid mengajak mereka yang hadir untuk turut menggemakan sebuah mantra magis pembawa pesan kedamaian.
“Sapa wonge yen ora ngerti leluhur. Sejarahe bangsa. Ora ngerti jati diri. Bakal muspro dikwasani bangsa liya,” sebuah mantra yang digaungkan bersama puluhan orang yang hadir untuk menutup tembang macapat.
Kegiatan Merokat Kenangan bukan sekadar acara nostalgia. Di balik tembang macapat dan petikan catatan lama, tersimpan semangat riset dan pelestarian sejarah yang serius.
Dengan pendekatan tradisi lisan dan observasi mendalam, mereka menelusuri jejak-jejak masa silam melalui metode yang mereka sebut sebagai "ilmu memperhatikan" atau dalam istilah Jawa yaitu niteni.
Sebuah metode lokal yang sejatinya selaras dengan langkah-langkah ilmiah dalam penelitian sejarah modern yaitu menentukan tema, heuristik, verifikasi, interpretasi, hingga penulisan historiografi.