SketsaNusantara.id - Hari Senin, 12 Mei 2025 menjadi momen penting bagi umat Buddha di seluruh dunia untuk merayakan Hari suci Waisak 2569 BE.
Waisak diperingati sebagai hari libur nasional di berbagai negara untuk mengenang kelahiran, pencerahan hingga wafatnya Sidhhartha Gautama atau yang dikenal sebagai Buddha Gautama.
Perayaan Waisak kini menjadi sorotan publik yang berpusat di Candi Mendut dan Borobudur, Jawa Tengah. Dalam foto yang beredar di media sosial, tampak dekorasi megah patung Buddha besar yang berada di atas bunga teratai.
Bunga teratai memang identik dengan perayaan hari raya suci umat Buddha. Lantas, apa makna bunga teratai dalam perayaan Waisak?
Bunga teratai bukan sekadar hiasan, tetapi memiliki makna simbolis mendalam dalam ajaran Buddha yang menjadikannya elemen penting dalam perayaan Waisak.
Dilansir SketsaNusantara.id dari akun Instagram @kmb_usu milik Komunitas Mahasiswa Buddhis Universitas Sumatera Utara, bunga teratai merupakan simbol kesucian, kemurnian dan pencerahan dari kelahiran Buddha Gautama yang mulia.
Bunga teratai adalah simbol utama dalam agama Buddha karena sifatnya yang unik yakni bisa tumbuh di lumpur yang kotor, namun mekar dengan indah dan bersih di permukaan air.
Teratai juga melambangkan kesucian yang menunjukkan kemampuan Buddha untuk tetap murni dan berbudi luhur meski hidup di dunia dengan kondisi yang penuh tantangan.
Selain itu, bunga teratai yang mekar di atas air mencerminkan pencerahan, seperti yang dicapai Buddha saat mencapai Nirvana di bawah pohon Bodhi.
Proses teratai yang menutup kelopaknya di malam hari dan mekar kembali di pagi hari juga melambangkan kebangkitan dan regenerasi spiritual, menggambarkan siklus kehidupan dan perjalanan Buddha menuju kebijaksanaan.
Menurut legenda Buddha, saat Siddhartha Gautama lahir di Taman Lumbini, ia langsung berdiri dan melangkah tujuh kali ke arah utara, selatan, timur, barat, hingga atas dan bawah.