SketsaNusantara.id – Dua tahun berjalan sebagai Agen BRILink, Gaguk Sugeng Krisbianto (41) sempat putus asa untuk tidak meneruskan usaha yang dirintis sejak 2017.
Saat itu, warga Dusun Sawahan, Desa Barongsawahan, Kecamatan Bandarkedungmulyo, Jombang ini mengaku sepi. Gaguk, sapaan akrabnya, merasa masyarakat di sekitar belum terbiasa menggunakan layanan keuangan di agen BRILink.
“Mereka sepertinya belum percaya kalau agen BRILink juga bisa melakukan pelayanan semua transaksi keuangan layaknya bank konvensional. Saya menilai, mereka sepertinya masih takut menggunakan layanan BRILink. Takut transaksi gagal, takut kehilangan uang atau lainnya. Maklum, karena ini berkaitan dengan uang,” ungkap Gaguk mengawali ceritanya kepada SketsaNusantara.id saat di temui di tokonya, Kamis 24 April 2025.
Baca Juga: Agen BRILink, Garda Terdepan Tanggulangi Penipuan
Karena dirasa sepi, ia lantas melakukan sosialisasi. Salah satunya dengan memasang baner pada gang masuk yang mengarah ke rumahnya. Di samping itu, setiap melayani pembeli toko ATK yang ia kelola, Gaguk tak segan memperkenalkan produk layanan keuangan melalui BRILink.
“Tak jarang saya memperkenalkan produk layanan BRILink kepada pelanggan dengan mengedukasi mereka tentang semua layanan perbankan. Intinya, semua produk layanan perbankan dapat terlayani di sini (agen BRILink). Tidak perlu jauh-jauh ke kantor BRI dan harus antri. Cukup di agen BRILink,” ujar Gaguk.
Setahun berjalan, agen BRILink yang ia kelola dirasa masih sepi. Waktu itu, di tahun 2018, ia mengaku sering menghadiri pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan BRI Cabang Jombang untuk menerima edukasi tentang keuangan, terutama permasalahan yang dihadapi agen BRILink.
Baca Juga: Subur Santoso: Perjalanan Panjang Agen BRILink dari Generasi Awal hingga Tantangan Era Digital
Selain belum mendapat kepercayaan dari masyarakat sekitar, Gaguk merasakan faktor lain yang membuat agen BRILink nya sepi. “Mungkin karena faktor geografis. Sebab, di sebelah utara desa ini sudah terdapat banyak agen BRILink yang sudah lama beroperasi,” kata dia.
Masyarakat desa tempat tinggal Gaguk merupakan mayoritas bekerja sebagai petani. Secara geografis, sebelah selatan Desa Barongsawahan merupakan masuk wilayah Kecamatan Purwoasri, Kediri. “Selain saya melayani sisa nasabah BRILink yang sudah lama beroperasi, mereka lebih memilih kantor unir BRI terdekat,” ungkapnya.
Saat itu, kata Gaguk, dalam sehari ia hanya melayani 1 sampai 5 orang nasabah yang menggunakan layanan BRILink. Bahkan, dalam sehari seringkali ia tidak melayani sama sekali transaksi keuangan di agen BRILink nya.
Bahkan, sambungnya, awal mula masyarakat menggunakan layanan keuangan, mereka terkesan seperti sekedar mencoba. “Layanan yang sering digunakan masyarakat hanya sebatas transfer dan tarik tunai. Itu pun jumlahnya sedikit, Rp 50 – 100 ribu. Seperti coba-coba,” ungkapnya.
Waktu menginjak di tahun ke 3, 2020. Di tahun tersebut ia merasakan usahanya sebagai agen BRILink justru sebagai usaha utama. 3 tahun sebelumnya, BRILink hanya sebagai usaha pendukung dari toko ATK yang ia Kelola selama ini. “Saat itu, pengembangan usaha perdagangan toko justru melalui agen BRILink,” ujar Gaguk.