SketsaNusantara.id- Jenderal Besar Sudirman adalah salah satu pahlawan nasional yang namanya begitu tersohor di berbagai penjuru Tanah Air.
Selain itu, Jenderal Sudirman juga dikenal dengan strategi perang gerilyanya yang mampu melumpuhkan pasukan Belanda.
Selain di bidang militer, banyak orang yang penasaran tentang pandangan Jenderal Sudirman dalam hal politik.
Melalui buku yang berjudul "Panglima Besar Jenderal Sudirman: Kader Muhammadiyah", terlihat jelas bahwa Jenderal Sudirman menegaskan respon dalam berpolitik.
Ia mengatakan bahwa “Tentara tidak berpolitik, tidak memihak kepada golongan, atau partai politik tertentu. Politik negara adalah politik tentara.”
Pernyataan Jenderal Sudirman yang melegenda itu memiliki alasan karena dirinya pernah mengalami suatu permasalahan.
Hal tersebut akhirnya membuat pria kelahiran Bantar Barang, Purbalingga ini membuatnya harus mengambil sikap tegas, dilansir SketsaNusantara.id dari kanal Youtube @Kamar Film.
Panglima Besar ini ternyata adalah seorang penentang keras politisi Sutan Syahrir dan Amir Syarifuddin.
Saat itu tengah terjadi perjuangan revolusi nasional Indonesia dalam melawan kolonialisme Belanda yang ingin menguasai kembali Tanah Air.
Pertentangan ini berupa persoalan tentang strategi dan taktik politik yang akan dilakukan untuk mengusir Belanda dari Indonesia.
Sutan Syahrir dan Amir Syarifuddin ingin menghadapi Belanda dengan acara politik damai, alias diplomasi dan perundingan dengan Belanda.