Kamis, 4 Juni 2026

Sujiwo Tejo Sebut Bercandaan Gus Miftah pada Yati Pesek Sudah Biasa, Benarkah Guyonan Menyindir Fisik Dianggap Wajar dalam Pagelaran Wayang?

Photo Author
Mila Zhely Nurul Hidayah, Sketsa Nusantara
- Jumat, 13 Desember 2024 | 07:30 WIB
Potret pagelaran wayang yang tidak hanya menunjukkan tontonan menghibur tetapi juga sarat makna dan pesan moral, berkaca pada video guyonan Gus Miftah pada Yati Pesek  (gunungkudulkab.go.id)
Potret pagelaran wayang yang tidak hanya menunjukkan tontonan menghibur tetapi juga sarat makna dan pesan moral, berkaca pada video guyonan Gus Miftah pada Yati Pesek (gunungkudulkab.go.id)

Dalam konteks ini, beberapa budayawan Jawa, termasuk Sujiwo Tejo, menyebut guyonan Gus Miftah adalah hal biasa dalam tradisi wayang.

Baca Juga: Borok Ponpes Ora Aji Milik Gus Miftah Terbongkar, Pengunjung Diperlakukan Bak Pengemis hingga Bikin Macet Kalau Bikin Acara

Sujiwo menilai nama panggung Yati Pesek sendiri, yang merujuk pada fisiknya, merupakan bagian dari budaya bercanda di lingkungan seni.

Namun, argumen ini menuai kritik tajam. Aktivis perempuan Kalis Mardiasih menegaskan bahwa guyonan Gus Miftah terhadap Yati Pesek melampaui batas budaya dan masuk dalam kategori pelecehan verbal.

Baginya, lelucon yang merendahkan fisik seseorang, apalagi di ruang publik, tidak dapat diterima dalam norma kesopanan.

Baca Juga: Tak Cuma Blangkon, Rambut Gus Miftah Juga Ditawar dengan Harga Fantastis oleh Pengusaha Tajir Jakarta, Segini Nilainya

Pada kasus Gus Miftah, ulama berambut gondrong itu menunjukkan rendahnya penghormatan terhadap sesama manusia terlebih kepada Yati Pesek yang berusia lebih tua darinya.

Dalam budaya Jawa, seni dan humor memiliki batasan yang diatur oleh tata krama dan nilai kesopanan. Guyonan di pagelaran wayang boleh mengangkat kritik sosial atau situasi aktual, tetapi tetap harus memperhatikan rasa hormat terhadap individu.

Tradisi Jawa, termasuk wayang menjunjung tinggi nilai tepa selira (tenggang rasa) dan unggah-ungguh (kesopanan). Oleh karena itu, bercanda dengan menyinggung fisik atau menghina seseorang dianggap bertentangan dengan nilai-nilai tersebut.

Baca Juga: Foto Lawas Gus Miftah saat Menikah Beredar di Media Sosial, Disebut Mirip Gibran Rakabuming Raka! Netizen: Fufufafa?

Salah satu dalang legendaris dan budayawan Jawa seperti almarhum Ki Manteb Sudarsono, pernah berpesan dan menekankan bahwa humor dalam wayang seharusnya mendidik dan tidak menyakiti perasaan orang lain.

"Wayang bukan cuma sebuah tontonan tapi juga jadi tuntunan yang mempertunjukkan kebudayaan yang menarik, menghibur tapi juga sarat pesan dan nilai moral," komentar Ki Manteb Sudarshono beberapa tahun lalu.

Dengan demikian, guyonan Gus Miftah dianggap telah melanggar prinsip dasar tersebut karena pemilihan kata-katanya untuk Yati Pesek telah masuk ke ranah merendahkan dan tak menghormati sesama manusia terutama wanita.

Baca Juga: Menyesal Undang Gus Miftah, Andy F Noya Sampai Geleng-geleng Kepala, Kenapa?

Video viral guyonan Gus Miftah pada Yati Pesek memunculkan perdebatan lebih luas tentang relevansi tradisi dalam budaya modern.

Halaman:

Editor: Siti Nurlaela Hanifah

Sumber: YouTube Sujiwo Tejo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X