SketsaNusantara.co.id – Deretan mobil terparkir di ruangan yang berada di belakang rumah. Penutup mesin sebagian terbuka. Mobil yang lainnya, berdiri dengan dongkrak, penyangga khusus pengganti ban mobil. Sebagian lagi terparkir di dekat pintu keluar-masuk dengan kondisi ada sedikit bercak bekas oli yang menempel.
Suasana itu menjadi pemandangan sehari-hari di belakang rumah milik Arif Choirudin (40). Sejak menempati rumahnya pada 2021, waga Desa Ceweng, Kecamatan Diwek, Jombang, Jatim ini memulai usaha jasa perbaikan mesin mobil dengan suasana baru.
Sebagai montir, ia sudah memulainya sejak lulus dari SMP. Sebelumnya, usaha bengkel yang menjadi sandaran ekonominya dilakukan dari tempat satu ke tempat lain. “Sekarang sudah menetap di sini,” ujarnya kepada SketsaNusantara.id.
Pertama kali dirintis, bengkel itu hanya menempati sebuah ruko sewaan. Pelanggan yang datang masih sedikit, bahkan dalam sehari tidak selalu ada kendaraan yang masuk untuk diservis. “Saat menempati bengkel yang lama ceritanya banyak. Yang paling saya ingat sempat diusir pemilik rumah karena belum bisa bayar sewa,” ungkap Arif.
Arif berujar, pemilik rumah tersebut masih memberi kepercayaan pada dirinya dengan memberi jangka waktu yang singkat. “Pemiliknya masih percaya sama saya karena memang tetangga,” kata Arif.
Bengkel terpaksa menghentikan operasional karena harus meninggalkan ruko yang disewa. Situasi tersebut membuat seluruh peralatan dipindahkan dan usaha kembali dimulai dari awal. “Aktivitas bengkel berhenti selama satu Minggu. Karena untuk memindahkan semua barang. Sebelum memindahkan, tempat baru harus sudah siap,” katanya.
Peristiwa 5 tahun silam itu selalu terbersit pada diri arif. Namun ia masih bersyukur karena saat pindah, biaya yang dibutuhkan juga tidak sedikiti. “Ya ke BRI, Pak,” katanya terkekeh.
Padahal, sambung dia, uang yang diterima dari pinjaman tersebut terbilang besar, Rp900 juta. “Saya belikan tanah sawah banon seratus (1.400 meter persegi, red).,” kata Arif.
Tanah sawah itulah yang kini dijadikan Arif sebagai tempat tinggal dan tempat melanjutkan aktivitas perbaikan mesin mobil bagi pelanggan lama.
Kepercayaan BRI menggelontorkan kredit sebesar itu tentu karena sudah terbangun kepercayaan sejak 2015. “Sudah lama saya mendapat dukungan dana untuk usaha dari BRI. 2015 saya sudah menerima KUR Rp25 juta. Dua tahun lunas dan saya mengambil lagi Rp50 juta yang saya lunasi dalam waktu 1,5 tahun,” bebernya.
Niat Arif terwujud dengan melebarkan sayap bisnis jual beli mobil. Hal itu karena sebagian pelanggan memang dari pelaku jual beli mobil.
Artikel Terkait
Apa Itu PBX Finder? Mengenal Alat Pelacak yang Ditemukan di Kolong Mobil Mantan Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto