SketsaNusantara.id – Sore yang cerah, Abdul Manaf (58) tampak tergesa-gesa. Ia berjalan pelan menuju tempat Wisata Edukasi Lontar Sewu di desanya, Hendrosari, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
Sesampai di tempat wisata yang dikelola pemerintah desa setempat, Manaf langsung menemui rombongan regional office (RO) BRI Surabaya. Pertanyaan yang tertuju padanya, pendek. Seakan tak terarah, ia menjawab pertanyaan-pertanyaan dari sejumlah rombongan tersebut dengan detail.
Petani pohon lontar ini menceritakan banyak hal proses panen yang dihasilkan pohon lontar; buah siwalan dan air legen. “Kalau legen dapat dipanen setiap hari, pagi dan sore. Setiap pohonnya dapat menghasilkan sampai lima liter legen. Buah siwalan biasanya enam bulan sekali baru panen,” terang Manaf, pertengahan bulan April 2026.
Dari keterangan Manaf, untuk mempermudah penjualan sampai ke tangan pembeli, legen disimpan dalam botol plastik berisi 1,5 liter. Per botol ia biasa menjual dengan harga Rp25 ribu.
Primadona desa
Hadirnya Wisata Lontar Sewu seakan menggugah warga Desa Hendrosari dalam memasarkan buah siwalan, terutama legen. Sebelum adanya tempat ini, kebanyakan para petani menjual di pinggir-pinggir ruas jalan raya sekitar kecamatan. Cara ini dipilih karena mereka mencari tempat yang ramai.
Selain cara itu, para petani juga menawarkan ke perumahan-perumahan dan di pasar tradisional.
Saat menjajakan legen, terutama di wilayah perumahan, Manaf juga memberikan nomor telepon. “Menawarkan legen sambil menyerahkan nomor telepon. Istilahnya jual nomor HP,” terang petani yang memiliki 30 lebih pohon lontar ini, tersenyum.
Adanya tempat ini, kata Manaf, enak. Fokus pemasaran legen yang biasa dijual di pinggir jalan dan dengan cara dijajakan kini memanfaatkan Wisata Lontar Sewu. Hari libur, sambungnya, banyak pengunjung dari komunitas sepeda ke wisata yang berdiri sejak 2018 silam itu.
“Hari Minggu biasanya banyak orang nggowes mampir ke sini. Mereka langsung minum legen,” ujarnya.
Tempat ini pernah mengalami kejayaan, puncaknya di tahun 2021.
Sekretaris desa setempat, Arifin (48) menjelaskan, jumlah UMKM yang berjualan pernah mencapai 128. Bahkan, tambah Arifin, waktu itu pengelola wisata kesulitan mengatur tempat untuk UMKM yang berjualan di Lontar Sewu.
Artikel Terkait
Program Desa BRILiaN Resmi Dimulai, BRI Gandeng Ribuan Desa untuk Ciptakan Wisata Unggulan Berbasis Kearifan Lokal
Paket Komplit! Wisata Sekaligus Belajar di Edu Wisata Lontar Sewu, Salah Satu Destinasi Wisata Populer di Jawa Timur
Asta Cita dan UMKM: Cara BRI Mendorong Pemerataan Ekonomi Nasional Lewat Desa BRILiaN, Klaster Usaha, dan Platform Digital